Love at the Sunset
Cerpen
: Anang Guman
Senja yang indah, kut’lah duduk berdua dengannya di bebatuan Anjungan pantai
Senggigi. Di sanalah kami sering memadu kasih sambil menikmati Sunset di
pantai. Rasanya tempat itu adalah surga bagi kami dan seolah-olah Sunset itu
menjadi saksi cinta kami. Pantulan cahaya Sunset yang menyebarkan warna-warni
di cakrawala seolah menambah semangat cinta kami. Di antara suasana itu
kusenantiasa merebahkan diri pada bidang dadanya sambil tangannya mengusap rambutku yang terurai. Di saat-saat
matahari akan tampak tenggelam, di sela-sela itulah ia selalu mengucap kata,
‘’Lina....aku cinta kamu.’’
‘’Aku
juga sangat mencintaimu, Reza...’’Jawabku. Rasanya Aku adalah wanita yang
paling bahagia saat mendengar kata manis itu di bibirnya. Hatiku mengatakan
bahwa aku tak salah memilihnya. Aku sangat mengagumi kepribadiannya yang sangat
penyayang dan penyabar. Bagiku Reza adalah laki-laki yang mampu membuatku
tenang saat berada di dekatnya.
Sampai suatu ketika ia bercerita kepadaku tentang
penyakit yang ia derita. Disaat itulah aku tahu
bahwa ia mengidap penyakit
Leukemia yaitu penyakit yang mematikan, yang terkadang-kadang membuatnya
tersiksa tatkala penyakit itu datang menyerang tubuhnya. Awalnya semua itu
mengejutkan hatiku, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun, semua itu
justru menumbuhkan simpati di hatiku dan membuat cinta dan kesetiaanku semakin
besar kepadanya.
Sore itu sepulang kuliah seperti biasanya aku
menunggunya di depan Kampus. Paginya ia memang t’lah janji akan menjemputku
untuk pergi ke pantai Senggigi. Hilir mudik kendaraan melaju di hadapanku.
Hampir 30 menit kuberdiri di depan pintu gerbang Kampus, namun ia tak datang
jua untuk menjemputku. Pikiranku penuh tanya karena tak biasanya ia terlambat
atau sampai mengingkari janjinya. Kucoba tenangkan pikiran dengan menghubungi
telephone genggamnya tapi di non-aktivkan. Selintas benakku mengatakan bahwa ia
sedang berada di pantai saat itu. Segera kuberanjak pulang ke tempat Kos yang
kebetulan tak begitu jauh dari Kampus. Tanpa istirahat sejenak kusabet motorku
lalu membelah jalan seorang diri menuju pantai.
Setibanya di pantai seolah ada yang menarik kakiku
menuju anjungan pantai Senggigi itu. Di tempat itu memang t’lah menjadi
peraduanku dengan Reza. Dorongan hatiku semakin kuat mengatakan bahwa ia telah
menantiku disana.Seiring dengan hatiku yang gelisah, kedua mataku pun sibuk
menoleh lepas ke penjuru pantai mencarinya, rupanya ia tak nampak juga, hanya terlihat
beberapa wisatawan yang sedang asyik menanti Sunset tiba.
Semilir angin nan lembut mulai menerpa kulitku dan
kuberdiri mengarah ke pantai menantinya di ujung senja itu. Tak lama kemudian
sebuah Canoe cantik mencuri tatapanku yang melaju secara perlahan. Semakin lama
Canoe itu semakin mendekat dan menepi tak jauh dari hadapanku. Mataku terkesiap
karena sepertinya aku mengenal laki-laki yang berada di atas Canoe itu. Setelah
jelas kumelihat, ternyata laki-laki itu tak lain adalah Reza yang sedang
kunanti saat itu. Seraya menebarkan senyumnya ia berjalan mengarah kepadaku.
‘’Lina....maafin
aku yaa t’lah membuatmu kesal. Aku sengaja ngelakuin semua ini hanya ingin
membuat surprise untukmu.’’Katanya setelah berada di hadapanku. Tak lama
kemudian ia mengulurkan setangkai bunga Matahari untukku. Bunga Matahari yang
mekar indah dengan mahkota kuningnya yang menawan hati.’’Slamat ultah,
Lin...!’’Sambungnya lagi saat memberikan bunga yang cantik itu. Sungguh aku
tersentak karena aku sendiri tak sadar bahwa saat itu adalah hari jadiku. Aku
hanya bisa terdiam menatap matanya yang masih berbinar-binar menatapku.
‘’Trima
kasih, sayang......aku sangat bahagia sekali dengan semua ini.’’Timpalku saat
menggenggam tanda cintanya itu. Tak lama kemudian aku pun merengkuhnya dengan
penuh kasih sayang.
‘’Sayang.......kamu
tau gak arti bunga Matahari ini?’’Tanyanya saat kumelepas pelukanku.’’Bunga
Matahari ini melambangkan keceriaan, keharmonisan dan kesetiaan sebuah
cinta.’’Sambungnya seraya menggenggam tanganku.
Rangkaian kata-kata manis yang ia lontarkan detik itu
sungguh menyentuh hatiku. Sambil menghela nafas panjang kulihat langit mulai
kemerah-merahan di ufuk barat. Suasana menjadi semakin romantis saat ia
membimbingku menuruni bebatuan lalu mengajakku untuk menaiki Canoe itu
bersamanya. Kedua kalinya ia membuat surprise untukku saat kulihat di dalam
Canoe tersebut terdapat ratusan bunga Matahari yang sengaja ia persiapkan
untukku. Bunga Matahari itu tersusun rapi seolah menjadi hiasan Canoe tersebut.
Kedua kalinya pula hatiku benar-benar tersentuh dan tersanjung dengan kegilaan
yang ia persembahkan untukku.
Sesaat
saja kami t’lah berada di atas Canoe itu. Semburat senyum di wajahnya tak
pernah terlepas saat mendayung perlahan-lahan ke arah selatan. Aku duduk di
sampingnya bak permaisuri raja. Kala
itu suasana alam seolah menyatu dengan hati kami yang bersukaria. Riak ombak
laut yang begitu tenang dengan permukaannya bercahaya-cahaya. Sementara saat
kami secara bersamaan menorehkan pandangan, tiba-tiba cahaya matahari itu
berubah menjadi keemasan dan
perlahan-lahan tenggelam ke dasar lautan.
‘’Aku
cinta kamu, Lin...’’Ucap Reza dengan mesranya kepadaku bersamaan dengan Sunset
itu.
‘’Aku
juga cinta kamu, Rez...’’ Balasku dengan bahagia.
Sunset dan bunga Matahari adalah dua makna yang berbeda
namun t’lah menyatukan cinta kami kala senja itu. Kenangan manis itu begitu
berkesan di hatiku dan selalu terbayang di setiap malam-malamku, hingga suatu
ketika saat ku pejamkan mata aku pun bermimpi. Dalam mimpiku tersebut aku dan
Reza tengah berada di sebuah bukit yang di penuhi taman bunga Matahari.Bunga
matahari itu berjumlah ratusan, namun anehnya dari sekian ratus kuntum itu
semuanya berupa kuncup. Dari kejanggalan itu, aku dan Reza meyakini bahwa satu
di antaranya pasti berupa satu kuntum yang sudah mekar.Tak lama kemudian, kami
melakukan penyisiran di sekitar taman itu, dan tanpa sadar kami terpisah arah.
Setelah beberapa saat kami melakukan penyisiran, satu hal aneh kutemukan lagi,
yaitu dari tiap-tiap bunga Matahari yang kulewati menetes darah segar pada
tiap-tiap tangkainya. Aku pun ketakutan dan segera mencari Reza, namun seolah
Reza hilang di taman bunga itu. Seorang laki-laki asing seketika muncul di hadapanku.
Laki-laki itu nampak membawa setangkai bunga Matahari mekar yang tengah aku
cari dengan Reza. Mimpi tersebut sungguh mengejutkanku sehingga membuatku
terbangun dari tidur. Perasaan batinku menjadi tak tenang karena cemas akan
suatu hal buruk yang akan menimpa aku dan Reza. Akhirnya semua yang kualami itu
kuceritakan kepada Reza, namun ia justru menenangkan pikiranku dengan mengatakan
bahwa itu adalah hanya bunga tidur yang tidak mempunyai arti dan makna.
Seminggu kemudian seperti biasanya aku dan Reza
melewati akhir pekan dengan menikmati Sunset di pantai Senggigi. Hari itu
terasa lain di hatiku, seolah ada firasat kurang baik yang akan terjadi.
Terlebih lagi saat melihat Reza mengenakan pakaian persis dengan apa yang
kulihat dalam mimpi. Semua itu membuat pikiranku dibayangi perasaan tak
menentu. Sesaat perasaan cemas itu lenyap saat ia dengan mesranya mengajakku
duduk di bebatuan Anjungan Senggigi tersebut. Di batas senja itu kami melepas
pandangan ke ufuk barat menanti hadirnya Sunset. Namun suasana indah itu
kembali berubah saat aku dengan paniknya menatap wajah Reza yang tiba-tiba
pucat pasi dengan sekujur tubuhnya menggigil seketika di sampingku. Tangan
lembutnya yang masih menggenggam jemariku kurasakan dingin pula.
‘’Rez,,...kamu
kenapa...? Baiknya kita pulang saja. Aku tahu penyakitmu kambuh lagi,
kan..?!’’Tanyaku sedikit berteriak panik.
‘’A...A...Aku
gak apa-apa, bentar lagi baikan kok. Aku sudah terbiasa dengan penyakit
ini.’’Katanya terbata-bata dengan tujuan membuatku tenang. Namun disamping itu
kulihat kedua tangannya memegang-megang kepalanya yang terasa sakit juga.
Di atas bebatuan yang hampir tertutup oleh pasir putih
itu ia merebahkan badannya. Tangannya tetap menggenggam jemariku seolah ada
perasaan tak ingin jauh. Tak lama kemudian Sunset yang kami nanti muncul jua di
atas garis lurus pantai. Namun, bersamaan dengan itu pula tiba-tiba genggaman
tangannya terlepas perlahan-lahan dari jemariku. Rasa panikku semakin
menjadi-jadi saat kutorehkan mata dan menyaksikan Reza terkulai lemas, sementara
terlihat darah segar terus mengalir dari hidungnya. Karuan saja aku berteriak
sekencang-kencangnya sehingga sekumpulan orang yang tengah berada di pantai
berhamburan menghampiri untuk memberikan pertolongan. Detik itu Reza sempat
dilarikan ke Rumah Sakit, namun takdir berkata lain.....dalam perjalanan Reza
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Waktu terasa terhenti saat itu, seolah menghentikan
hari-hari bahagia kedepan hidupku. Air mataku tumpah seketika, deras membasahi
pipi. Rasanya ku tak sanggup menanggung duka itu, hidupku benar-benar
terguncang. Ku tak pernah menduga hari itu adalah saat terakhirku bersamanya.
Setelah kepergian Reza, sungguh rasanya aku berada
dalam alam kesunyian. Meski hari berlalu, bulan pun berganti namun bayangannya
sulit lenyap di jiwaku. Kerap kali aku sengaja bertandang sendiri ke pantai
Senggigi untuk mengingat kenangan-kenangan manis bersamanya, di saat ia
memberikan bunga Matahari di kala Sunset tiba. Bila mengingat semua itu, tak
jarang air duka turut keluar dari kedua sudut mataku. Hatiku pun sering berkata,’’Tuhan.....Mengapa
Engkau begitu cepat memanggilnya.... di saat kumerasakan cinta yang teramat
dalam.’’
Singkat kata, pada suatu hari aku mendapat Email dari
sahabat lamaku, sebut saja namanya Michael. Ia adalah Bule inggris yang sering
melancong ke Lombok. Awal jumpaku dengannya terjadi di pantai Senggigi pula, 3
tahun sebelum pertemuanku dengan Reza. Satu hal yang masih kuingat tentang
dirinya adalah kegemarannya bermain Surfing dan trekking. Ia memang aktiv dalam
kedua bidang tersebut. Sekilas aku baca Emailnya tertulis,’’Lina....I will come to Lombok in the middle of this month, I really
hope to see you again on the beach.’’
Saatnya
pun tiba, di batas senja di tepian pantai aku duduk menanti kedatangannya.
Diatas langit terlihat mega-mega mulai menampakkan warnanya. Suasana tersebut
mengingatkanku lagi dengan bayangan Reza yang sudah lama tiada dan semua terasa
membakar rinduku akan kehadirannya. Terlebih lagi disaatku menatap Sunset yang
bernaung di atas permukaan laut, seolah menghanyutkan jiwaku dan semakin
membuatku terlupa akan siapa yang sebenarnya aku sedang nanti disana.
‘’Erlina.....!’’Terdengar
suara laki-laki memanggil namaku dari belakang. Aku pun segera menorehkan
pandangan. Seolah tak percaya dengan apa yang kulihat karena pria Bule yang
sedang aku tunggu telah berdiri tanpa aku sadari di belakangku. Sungguh di luar
dugaanku karena Michael yang kukenal sebelumnya acuh dalam segala hal termasuk
dalam berpenampilan, tapi detik itu ia berubah 180 derajat. Ia berpenampilan
sangat klimis dengan mengenakan kemeja lengan panjang.
‘’Is
that you, Michael?’’Tanyaku agak ragu-ragu. Ia lalu tersenyum dan memberikan
gesture sehingga akupun menghampirinya.’’Great to see you again, Michael.’’Sambungku
lagi seraya menjabat tangannya.
‘’Great
to see you too, Lina.’’Balasnya sembari tak henti melepaskan senyum di
bibirnya.
Sejak pertemuan itu aku merasakan perubahan yang
terjadi pada Michael sangat aneh di hatiku. Semua itu kurasakan dari cara berpakaian,
tata ucapnya halus dan bersahaja seolah mencerminkan auranya Reza. Tapi kembali
lagi pada setiap orang bisa saja berubah sewaktu-waktu dan keadaan itu justru
membuatku menjadi dekat dengannya. Sejak itu tak jarang hari-hari aku lewati
dengannya menikmati Sunset di Senggigi, sehingga bayangan Reza sedikit
tertepiskan di hatiku. Ia membuatku merasa nyaman dan aku pun mulai membuka
hati untuknya.
Singkat kata, pada suatu ketika Michael mengajakku
pergi ke sebuah bukit yang tak jauh dari Senggigi. Ia sempat menceritakan bahwa
bukit itu dahulu senantiasa ia jadikan tempat untuk trekking setiap kali ia
datang ke Lombok. Ia terlihat merindukan tempat itu karena t’lah menjadi tempat
spesial di hatinya. Sore itu pun ia membingku kesana sekalian melihat Sunset
bersamanya....di atas bukit yang indah itu.
Dalam hitungan menit saja sampailah kami diatas bukit
itu. Kulihat wajah Michael berseri-seri menunjukkan tempat yang selama ini
menjadi idamannya tersebut. Namun, mataku tiba-tiba terbelalak menyaksikan pemandangan
di sekitar bukit itu. Semua yang kulihat persis dengan apa yang pernah kulihat
dalam mimpiku beberapa hari sebelum Reza dipanggil Yang Kuasa. Di depan mataku
terhampar ratusan bunga Matahari. Namun, anehnya dari ratusan tangkai itu
semuanya berupa kuncup.
‘’There
must be a blooming Sunflower among these...!’’Kata Michael tiba-tiba, seolah ia
tahu tanda tanya di hatiku. Tanpa berpikir panjang ia berlari kecil di sekitar
taman itu.
‘’Michael.......wait!!!’’Kataku
spontan ingin menghalanginya, namun sepertinya ia tak menghiraukanku dan terus
berlari mencari.
Saat itu kakiku terasa berat untuk dilangkahkan dan
seolah pikiranku kosong tak tau mesti berbuat apa. Aku hanya terdiam di tengah
taman bunga Matahari itu. Namun, beberapa saat kemudian, Michael muncul dan
berhasil membawa setangkai bunga Matahari yang sudah mekar di tangannya.
‘’Look...!
I’ve got the flower, Lina!’’Katanya dengan nafas yang masih terdengar belum
teratur.
‘’Thank
you, Michael...!’’Ucapku perlahan, dan tanpa kusadari air mataku jatuh di pipi.
Aku menangis terharu karena terjawab sudah pertanyaan di hatiku. Aku
benar-benar yakin bahwa laki-laki asing yang ada di mimpiku tersebut tak lain
adalah Michael. Tak dapat kutahan air mataku semakin deras membasahi wajahku
sehingga membuat Michael spontan saja mendekapku.
‘’What
makes you cry?I’ll cover you here...’’Ucapnya sembari mengelus-elus
rambutku.’’I love you......Lina.’’Sambungnya tanpa kuduga-duga.
‘’I
love you Lina.’’Ucapnya sekali lagi seiring dengan Sunset yang kulihat
tenggelam dengan indahnya di balik bukit itu. Aku terkesima dalam hati
mengenang kedua hal itu selalu hadir secara beriringan dalam hidupku, yaitu my
love at the
Sunset.
Written by : anang guman
Mataram, 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar