Minggu, 06 September 2015

cerita sedih



Love at the Sunset
                                                                             Cerpen : Anang Guman
Senja yang indah, kut’lah duduk berdua dengannya di bebatuan Anjungan pantai Senggigi. Di sanalah kami sering memadu kasih sambil menikmati Sunset di pantai. Rasanya tempat itu adalah surga bagi kami dan seolah-olah Sunset itu menjadi saksi cinta kami. Pantulan cahaya Sunset yang menyebarkan warna-warni di cakrawala seolah menambah semangat cinta kami. Di antara suasana itu kusenantiasa merebahkan diri pada bidang dadanya sambil tangannya mengusap rambutku yang terurai. Di saat-saat matahari akan tampak tenggelam, di sela-sela itulah ia selalu mengucap kata, ‘’Lina....aku cinta kamu.’’
‘’Aku juga sangat mencintaimu, Reza...’’Jawabku. Rasanya Aku adalah wanita yang paling bahagia saat mendengar kata manis itu di bibirnya. Hatiku mengatakan bahwa aku tak salah memilihnya. Aku sangat mengagumi kepribadiannya yang sangat penyayang dan penyabar. Bagiku Reza adalah laki-laki yang mampu membuatku tenang saat berada di dekatnya.
Sampai suatu ketika ia bercerita kepadaku tentang penyakit yang ia derita. Disaat itulah aku tahu  bahwa ia mengidap  penyakit Leukemia yaitu penyakit yang mematikan, yang terkadang-kadang membuatnya tersiksa tatkala penyakit itu datang menyerang tubuhnya. Awalnya semua itu mengejutkan hatiku, tak percaya dengan apa yang kudengar. Namun, semua itu justru menumbuhkan simpati di hatiku dan membuat cinta dan kesetiaanku semakin besar kepadanya.
Sore itu sepulang kuliah seperti biasanya aku menunggunya di depan Kampus. Paginya ia memang t’lah janji akan menjemputku untuk pergi ke pantai Senggigi. Hilir mudik kendaraan melaju di hadapanku. Hampir 30 menit kuberdiri di depan pintu gerbang Kampus, namun ia tak datang jua untuk menjemputku. Pikiranku penuh tanya karena tak biasanya ia terlambat atau sampai mengingkari janjinya. Kucoba tenangkan pikiran dengan menghubungi telephone genggamnya tapi di non-aktivkan. Selintas benakku mengatakan bahwa ia sedang berada di pantai saat itu. Segera kuberanjak pulang ke tempat Kos yang kebetulan tak begitu jauh dari Kampus. Tanpa istirahat sejenak kusabet motorku lalu membelah jalan seorang diri menuju pantai.
Setibanya di pantai seolah ada yang menarik kakiku menuju anjungan pantai Senggigi itu. Di tempat itu memang t’lah menjadi peraduanku dengan Reza. Dorongan hatiku semakin kuat mengatakan bahwa ia telah menantiku disana.Seiring dengan hatiku yang gelisah, kedua mataku pun sibuk menoleh lepas ke penjuru pantai mencarinya,  rupanya ia tak nampak juga, hanya terlihat beberapa wisatawan yang sedang asyik menanti Sunset tiba.
Semilir angin nan lembut mulai menerpa kulitku dan kuberdiri mengarah ke pantai menantinya di ujung senja itu. Tak lama kemudian sebuah Canoe cantik mencuri tatapanku yang melaju secara perlahan. Semakin lama Canoe itu semakin mendekat dan menepi tak jauh dari hadapanku. Mataku terkesiap karena sepertinya aku mengenal laki-laki yang berada di atas Canoe itu. Setelah jelas kumelihat, ternyata laki-laki itu tak lain adalah Reza yang sedang kunanti saat itu. Seraya menebarkan senyumnya ia berjalan mengarah kepadaku.
‘’Lina....maafin aku yaa t’lah membuatmu kesal. Aku sengaja ngelakuin semua ini hanya ingin membuat surprise untukmu.’’Katanya setelah berada di hadapanku. Tak lama kemudian ia mengulurkan setangkai bunga Matahari untukku. Bunga Matahari yang mekar indah dengan mahkota kuningnya yang menawan hati.’’Slamat ultah, Lin...!’’Sambungnya lagi saat memberikan bunga yang cantik itu. Sungguh aku tersentak karena aku sendiri tak sadar bahwa saat itu adalah hari jadiku. Aku hanya bisa terdiam menatap matanya yang masih berbinar-binar menatapku.
‘’Trima kasih, sayang......aku sangat bahagia sekali dengan semua ini.’’Timpalku saat menggenggam tanda cintanya itu. Tak lama kemudian aku pun merengkuhnya dengan penuh kasih sayang.
‘’Sayang.......kamu tau gak arti bunga Matahari ini?’’Tanyanya saat kumelepas pelukanku.’’Bunga Matahari ini melambangkan keceriaan, keharmonisan dan kesetiaan sebuah cinta.’’Sambungnya seraya menggenggam tanganku.
Rangkaian kata-kata manis yang ia lontarkan detik itu sungguh menyentuh hatiku. Sambil menghela nafas panjang kulihat langit mulai kemerah-merahan di ufuk barat. Suasana menjadi semakin romantis saat ia membimbingku menuruni bebatuan lalu mengajakku untuk menaiki Canoe itu bersamanya. Kedua kalinya ia membuat surprise untukku saat kulihat di dalam Canoe tersebut terdapat ratusan bunga Matahari yang sengaja ia persiapkan untukku. Bunga Matahari itu tersusun rapi seolah menjadi hiasan Canoe tersebut. Kedua kalinya pula hatiku benar-benar tersentuh dan tersanjung dengan kegilaan yang ia persembahkan untukku.
Sesaat saja kami t’lah berada di atas Canoe itu. Semburat senyum di wajahnya tak pernah terlepas saat mendayung perlahan-lahan ke arah selatan. Aku duduk di sampingnya bak permaisuri raja. Kala itu suasana alam seolah menyatu dengan hati kami yang bersukaria. Riak ombak laut yang begitu tenang dengan permukaannya bercahaya-cahaya. Sementara saat kami secara bersamaan menorehkan pandangan, tiba-tiba cahaya matahari itu berubah menjadi keemasan dan perlahan-lahan tenggelam ke dasar lautan.
‘’Aku cinta kamu, Lin...’’Ucap Reza dengan mesranya kepadaku bersamaan dengan Sunset itu.
‘’Aku juga cinta kamu, Rez...’’ Balasku dengan bahagia.
Sunset dan bunga Matahari adalah dua makna yang berbeda namun t’lah menyatukan cinta kami kala senja itu. Kenangan manis itu begitu berkesan di hatiku dan selalu terbayang di setiap malam-malamku, hingga suatu ketika saat ku pejamkan mata aku pun bermimpi. Dalam mimpiku tersebut aku dan Reza tengah berada di sebuah bukit yang di penuhi taman bunga Matahari.Bunga matahari itu berjumlah ratusan, namun anehnya dari sekian ratus kuntum itu semuanya berupa kuncup. Dari kejanggalan itu, aku dan Reza meyakini bahwa satu di antaranya pasti berupa satu kuntum yang sudah mekar.Tak lama kemudian, kami melakukan penyisiran di sekitar taman itu, dan tanpa sadar kami terpisah arah. Setelah beberapa saat kami melakukan penyisiran, satu hal aneh kutemukan lagi, yaitu dari tiap-tiap bunga Matahari yang kulewati menetes darah segar pada tiap-tiap tangkainya. Aku pun ketakutan dan segera mencari Reza, namun seolah Reza hilang di taman bunga itu. Seorang laki-laki asing seketika muncul di hadapanku. Laki-laki itu nampak membawa setangkai bunga Matahari mekar yang tengah aku cari dengan Reza. Mimpi tersebut sungguh mengejutkanku sehingga membuatku terbangun dari tidur. Perasaan batinku menjadi tak tenang karena cemas akan suatu hal buruk yang akan menimpa aku dan Reza. Akhirnya semua yang kualami itu kuceritakan kepada Reza, namun ia justru menenangkan pikiranku dengan mengatakan bahwa itu adalah hanya bunga tidur yang tidak mempunyai arti dan makna.
Seminggu kemudian seperti biasanya aku dan Reza melewati akhir pekan dengan menikmati Sunset di pantai Senggigi. Hari itu terasa lain di hatiku, seolah ada firasat kurang baik yang akan terjadi. Terlebih lagi saat melihat Reza mengenakan pakaian persis dengan apa yang kulihat dalam mimpi. Semua itu membuat pikiranku dibayangi perasaan tak menentu. Sesaat perasaan cemas itu lenyap saat ia dengan mesranya mengajakku duduk di bebatuan Anjungan Senggigi tersebut. Di batas senja itu kami melepas pandangan ke ufuk barat menanti hadirnya Sunset. Namun suasana indah itu kembali berubah saat aku dengan paniknya menatap wajah Reza yang tiba-tiba pucat pasi dengan sekujur tubuhnya menggigil seketika di sampingku. Tangan lembutnya yang masih menggenggam jemariku kurasakan dingin pula.
‘’Rez,,...kamu kenapa...? Baiknya kita pulang saja. Aku tahu penyakitmu kambuh lagi, kan..?!’’Tanyaku sedikit berteriak panik.
‘’A...A...Aku gak apa-apa, bentar lagi baikan kok. Aku sudah terbiasa dengan penyakit ini.’’Katanya terbata-bata dengan tujuan membuatku tenang. Namun disamping itu kulihat kedua tangannya memegang-megang kepalanya yang terasa sakit juga.
Di atas bebatuan yang hampir tertutup oleh pasir putih itu ia merebahkan badannya. Tangannya tetap menggenggam jemariku seolah ada perasaan tak ingin jauh. Tak lama kemudian Sunset yang kami nanti muncul jua di atas garis lurus pantai. Namun, bersamaan dengan itu pula tiba-tiba genggaman tangannya terlepas perlahan-lahan dari jemariku. Rasa panikku semakin menjadi-jadi saat kutorehkan mata dan menyaksikan Reza terkulai lemas, sementara terlihat darah segar terus mengalir dari hidungnya. Karuan saja aku berteriak sekencang-kencangnya sehingga sekumpulan orang yang tengah berada di pantai berhamburan menghampiri untuk memberikan pertolongan. Detik itu Reza sempat dilarikan ke Rumah Sakit, namun takdir berkata lain.....dalam perjalanan Reza menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Waktu terasa terhenti saat itu, seolah menghentikan hari-hari bahagia kedepan hidupku. Air mataku tumpah seketika, deras membasahi pipi. Rasanya ku tak sanggup menanggung duka itu, hidupku benar-benar terguncang. Ku tak pernah menduga hari itu adalah saat terakhirku bersamanya.
Setelah kepergian Reza, sungguh rasanya aku berada dalam alam kesunyian. Meski hari berlalu, bulan pun berganti namun bayangannya sulit lenyap di jiwaku. Kerap kali aku sengaja bertandang sendiri ke pantai Senggigi untuk mengingat kenangan-kenangan manis bersamanya, di saat ia memberikan bunga Matahari di kala Sunset tiba. Bila mengingat semua itu, tak jarang air duka turut keluar dari kedua sudut mataku. Hatiku pun sering berkata,’’Tuhan.....Mengapa Engkau begitu cepat memanggilnya.... di saat kumerasakan cinta yang teramat dalam.’’
Singkat kata, pada suatu hari aku mendapat Email dari sahabat lamaku, sebut saja namanya Michael. Ia adalah Bule inggris yang sering melancong ke Lombok. Awal jumpaku dengannya terjadi di pantai Senggigi pula, 3 tahun sebelum pertemuanku dengan Reza. Satu hal yang masih kuingat tentang dirinya adalah kegemarannya bermain Surfing dan trekking. Ia memang aktiv dalam kedua bidang tersebut. Sekilas aku baca Emailnya tertulis,’’Lina....I will come to Lombok in the middle of this month, I really hope to see you again on the beach.’’
Saatnya pun tiba, di batas senja di tepian pantai aku duduk menanti kedatangannya. Diatas langit terlihat mega-mega mulai menampakkan warnanya. Suasana tersebut mengingatkanku lagi dengan bayangan Reza yang sudah lama tiada dan semua terasa membakar rinduku akan kehadirannya. Terlebih lagi disaatku menatap Sunset yang bernaung di atas permukaan laut, seolah menghanyutkan jiwaku dan semakin membuatku terlupa akan siapa yang sebenarnya aku sedang nanti disana.
‘’Erlina.....!’’Terdengar suara laki-laki memanggil namaku dari belakang. Aku pun segera menorehkan pandangan. Seolah tak percaya dengan apa yang kulihat karena pria Bule yang sedang aku tunggu telah berdiri tanpa aku sadari di belakangku. Sungguh di luar dugaanku karena Michael yang kukenal sebelumnya acuh dalam segala hal termasuk dalam berpenampilan, tapi detik itu ia berubah 180 derajat. Ia berpenampilan sangat klimis dengan mengenakan kemeja lengan panjang.
‘’Is that you, Michael?’’Tanyaku agak ragu-ragu. Ia lalu tersenyum dan memberikan gesture sehingga akupun menghampirinya.’’Great to see you again, Michael.’’Sambungku lagi seraya menjabat tangannya.
‘’Great to see you too, Lina.’’Balasnya sembari tak henti melepaskan senyum di bibirnya.
Sejak pertemuan itu aku merasakan perubahan yang terjadi pada Michael sangat aneh di hatiku. Semua itu kurasakan dari cara berpakaian, tata ucapnya halus dan bersahaja seolah mencerminkan auranya Reza. Tapi kembali lagi pada setiap orang bisa saja berubah sewaktu-waktu dan keadaan itu justru membuatku menjadi dekat dengannya. Sejak itu tak jarang hari-hari aku lewati dengannya menikmati Sunset di Senggigi, sehingga bayangan Reza sedikit tertepiskan di hatiku. Ia membuatku merasa nyaman dan aku pun mulai membuka hati untuknya.
Singkat kata, pada suatu ketika Michael mengajakku pergi ke sebuah bukit yang tak jauh dari Senggigi. Ia sempat menceritakan bahwa bukit itu dahulu senantiasa ia jadikan tempat untuk trekking setiap kali ia datang ke Lombok. Ia terlihat merindukan tempat itu karena t’lah menjadi tempat spesial di hatinya. Sore itu pun ia membingku kesana sekalian melihat Sunset bersamanya....di atas bukit yang indah itu.
Dalam hitungan menit saja sampailah kami diatas bukit itu. Kulihat wajah Michael berseri-seri menunjukkan tempat yang selama ini menjadi idamannya tersebut. Namun, mataku tiba-tiba terbelalak menyaksikan pemandangan di sekitar bukit itu. Semua yang kulihat persis dengan apa yang pernah kulihat dalam mimpiku beberapa hari sebelum Reza dipanggil Yang Kuasa. Di depan mataku terhampar ratusan bunga Matahari. Namun, anehnya dari ratusan tangkai itu semuanya berupa kuncup.
‘’There must be a blooming Sunflower among these...!’’Kata Michael tiba-tiba, seolah ia tahu tanda tanya di hatiku. Tanpa berpikir panjang ia berlari kecil di sekitar taman itu.
‘’Michael.......wait!!!’’Kataku spontan ingin menghalanginya, namun sepertinya ia tak menghiraukanku dan terus berlari mencari.
Saat itu kakiku terasa berat untuk dilangkahkan dan seolah pikiranku kosong tak tau mesti berbuat apa. Aku hanya terdiam di tengah taman bunga Matahari itu. Namun, beberapa saat kemudian, Michael muncul dan berhasil membawa setangkai bunga Matahari yang sudah mekar di tangannya.
‘’Look...! I’ve got the flower, Lina!’’Katanya dengan nafas yang masih terdengar belum teratur.
‘’Thank you, Michael...!’’Ucapku perlahan, dan tanpa kusadari air mataku jatuh di pipi. Aku menangis terharu karena terjawab sudah pertanyaan di hatiku. Aku benar-benar yakin bahwa laki-laki asing yang ada di mimpiku tersebut tak lain adalah Michael. Tak dapat kutahan air mataku semakin deras membasahi wajahku sehingga membuat Michael spontan saja mendekapku.
‘’What makes you cry?I’ll cover you here...’’Ucapnya sembari mengelus-elus rambutku.’’I love you......Lina.’’Sambungnya tanpa kuduga-duga.
‘’I love you Lina.’’Ucapnya sekali lagi seiring dengan Sunset yang kulihat tenggelam dengan indahnya di balik bukit itu. Aku terkesima dalam hati mengenang kedua hal itu selalu hadir secara beriringan dalam hidupku, yaitu my love at the Sunset.

Written by : anang guman
Mataram, 2015













Tidak ada komentar:

Posting Komentar