Minggu, 06 September 2015

cerita misteri



                         Misteri Kampus Baru
By:Anang guman
Genre :horror
Kisah ini terjadi beberapa tahun lalu, ketika aku menjadi mahasiswa baru di sebuah kampus swasta di kotaku. Waktu itu aku mengambil jurusan bahasa inggris, karena itu adalah satu-satunya pilihanku. Minggu pertama kuliah kulewati dengan semangat, lebih-lebih lagi aku terpilih menjadi ketua tingkat di kelas, semua itu menambah motivasiku. Sungguh tak percaya mengapa teman-teman menunjukku sebagai ketua tingkat mereka. Namun, dari sanalah aktivitasku sedikit lebih sibuk dari teman-teman yang lainnya. Setiap hari harus datang lebih awal dan pulang kadang paling akhir. Mungkin itulah konsekuensinya, ada-ada saja tugas yang diberikan dosen yang dititipkan kepadaku untuk selanjutnya diberikan untuk teman teman.
Layaknya kampus swasta lainnya yang mempunyai jadwal kuliah sore, di kampusku pun demikian. Kadang kuliah sore kadangpula kuliah malam. Pada saat minggu kedua perkuliahanpun terasa mulai aktif digelar dan tugas-tugas pun sudah mulai padat. Namun, bersamaan dengan kesibukan itu disanalah aku mulai merasa ada yang aneh di kampus baruku itu. Kebetulan ruang kelas kami berada di lantai 3 paling atas, ruangannya terpisah jauh dari kelas-kelas lain, seperti kelas yang memojok sendiri. Suasana gedungnya pun terasa beda, agak gelap karena semua tertutup udara dan tidak ada celah cahaya yang bisa masuk ke dalam. Sampai suatu hari perkuliahan malam pun digelar. Tepat pukul tujuh malam aku dan beberapa teman lainnya sudah berada di kampus menunggu kehadiran dosen kami. Hari tu nampaknya cukup buruk, langit tiba-tiba berkabut lalu hujan. Tapi syukurlah, dosen yang kami tunggu datang juga dan memintaku untuk memberi komando kepada teman-teman untuk masuk keruang kelas terlebih dahulu. Sementara, seperti biasanya aku masih di luar menghadap dosen sebelum kelas dimulai. Teman-teman pun berbondong-bondong naik ke ruang lantai 3. Seusai menghadap dosen aku pun menyusul teman-teman dari belakang. Tepat disaat aku hendak menaiki tangga lantai 3, dikarenakan suasana yang memang agak gelap, hampir saja aku menabrak seorang gadis yang tengah duduk di tangga itu.
‘’Maaf, Mbak, hampir saja aku tabrak tadi….!”sahutku spontan.
Aku heran karena gadis itu tidak bergeming sedikitpun meresponku. Gadis itu malah      menunduk menatap lantai. Yach karena waktu itu aku buru-buru masuk kelas, akupun bergegas melewatinya.
Satu jam kemudian perkuliahanpun usai digelar. Satu persatu dari teman-teman keluar meninggalkan ruangan perkuliahan tersebut. Di saat itu hanya aku sendiri yang sibuk mengecek buku-buku di dalam tas kalau-kalau ada yang tertinggal nanti. Saatku memalingkan wajah kedepan ternyata aku sadar kalau saat itu aku tak sendiri, disana ada salah satu dari teman kelasku yang masih terduduk di bangku. Sebut saja namanya Dian. Dia adalah satu-satunya dari teman kelasku yang agak berbeda dari yang lainnya. Dia gadis pendiam dan jarang berkumpul dengan teman-teman lainnya.
“Kok masih bengong sendiri di kelas nih? Gak takut ya kalau nantinya dirasukin ma penunggu kelas ini? Sahutku menggodanya.
“Ah side nich nakut-nakutin aja. Bentar aja aku dah keluar kok.” Sahutnya sambil memasukkan buku-bukunya yang masih tercecer di atas meja. Side duluan dah sana nanti aku susul.” Tambahnya
“ Ok deh….aku duluan kalo gitu.” Ucapku meninggalkan ruangan kelas. Langkahku sengaja kuperlambat agar ia dapat menyusulku kemudian. Sesekali kumenengok kebelakang namun raganya tak kunjung keluar juga dari pintu kelas itu. Tiba-tiba perasaanku menjadi tak enak. Spontan saja kuputar langkahku untuk kembali ke ruang perkuliahan tersebut.
Dengan nafas sedikit tersengal kuberlari kecil. Sesampainya di pintu kelas, jantungku berdetak keras, sangat terperanjat dengan apa yang kulihat. Si Dian yang baru saja sempat bercakap-cakap denganku, tapi detik itu ia kesurupan di dalam kelas. Seakan kumelihat mahluk lain di dalam ruangan itu, tubuh Dian terbujur kaku di bangku dengan bibirnya komat-kamit seperti mengucap mantra. Jelasnya ia kesurupan waktu itu. Spontan saja aku berteriak panik meminta pertolongan. Beberapa teman dan Dosen pun berhamburan naik ke atas dan memberikan pertolongan mereka.
Sejak kejadian aneh itu, di hatiku kadang timbul firasat kurang baik dari hari ke hari di gedung lantai 3 itu. Aku merasa ada yang tidak beres dan terasa angker.
Tiga hari setelah kejadian itu, musibah besar pun terjadi. Dan itu sangat menghantam pikiran dan perasaanku. Bagaimana tidak, Dian yang sebelumnya kesurupan di kelas, namun pada hari berikutnya ditemukan tewas terjatuh di tangga lantai 3. Kepalanya terbentur keras dan mengalami cidera hebat hingga tak bisa tertolong lagi.
Kejadian tragis itu sangat mengguncang pihak kampus. Rasa duka mendalam pun dirasakan oleh teman-teman semuanya, mereka tak menyangka peristiwa itu bisa terjadi. Disisi lain, setelah peristiwa itu, perasaan teman-teman menjadi was-wasa dan ada rasa takut menghinggapi jiwa mereka. Terlebih lagi tatkala melewati tangga lantai 3 tempat kejadian itu setiap kali masuk kuliah. Aku pun juga tidak bisa menampik semua itu, karena aku terkadang terbayang-bayang wajah Dian setiap kali melewati tangga yang remang itu. Seperti halnya hari itu, karena tak ada jalan masuk lain, akupun harus melewati tempat itu lagi. Namun, perasaan aneh itu tiba-tiba saja teralihkan, karena belum saja aku sempat menaikkan kaki di anak tangga pertama, di pertengahan anak tangga tersebut kumelihat lagi seorang gadis yang tempo hari juga kutemukan duduk di posisi itu. Raut wajah gadis itu lumayan cantik, ia menyingkap rambut yang menutup wajahnya seraya tersenyum padaku. Semula ada rasa ingin berkenalan dengannya. Namun, karena pelajaran sudah mulai, aku pun buru-buru masuk kelas.
Pelajaran tak berlangsung lama, satu jam kemudian kami pun keluar ruangan. Beberapa dari teman kelasku sudah turun dari lantai 3, sementara aku dan beberapa teman lainnya masih berada di atas gedung. Semula suasana Nampak tenang ketika kami tengah asyik bercakap-cakap sambil jalan di lantai 3 tersebut. Namun, tiba-tiba kami mendengar suara gaduh dan seperti suara seseorang yang minta tolong. Kami pun berlari mencari sumber suara itu. Semua ruangan kami geledah dengan seksama dan ternyata suara itu berasal dari dalam kamar mandi yang terletak dekat tangga lantai 3 tersebut.
“Tolong…..tolong saya!” begitulah suara rintihan yang terdengar. Aku dan keempat teman laki-laki lainnya mendobrak pintu toilet itu sampai terbuka. Kami terperangah, karena di dalamnya terdapat salah seorang security di kampus kami, Pak Saedun. Dari penuturan Pak Saedun bahwa ia terkunci sejak 2 jam sebelumnya di toilet itu. Ia pula menjelaskan bahwa sebelum masuk ke toilet itu, ia sempat melihat seorang gadis yang berdiri di dekat tangga.
Mendengar penuturan security tersebut, beberapa diantara teman-teman mengernyitkan dahi seraya berpikir siapa gadis yang dimaksudkan itu. Namun, belum saja kepanikan itu reda, sebuah teriakan terdengar lagi di bawah tangga. Suasana pun mencekam kembali. Aku dan sebagian teman terpaksa meninggalkan Pak Saedun dan berlari mengecek ke bawah tangga. Tepat di lantai dekat anak tangga kami menemukan seorang mahasiswi yang tengah kesurupan.
“Ya Allah, ada apa lagi ini?”Tanyaku dalam hati. Tak lama kemudian mahasiswi yang kesurupan itu kami bawa ke ruang akademik.
Setelah kejadian demi kejadian terjadi di kampus itu, terang saja menjadi hiruk pikuk perbincangan di kalangan mahasiswa. Obrolan demi obrolan yang terdengar hanya membahas prihal tersebut. Seperti halnya ketika itu, tatkala Dosen berhalangan hadir, topic itu tak henti-hentinya dibahas oleh teman-teman. Hatiku jenuh dengan semua itu, tanpa bermaksud menyisihkan diri keluar dan berharap menemukan udara segar di luar kelas. Sedikit kupercepat langkahku untuk segera turun dari lantai 3 tersebut, namun tak seberapa jauh dari pandanganku, tepat di tangga kumelihat seorang gadis tengah terduduk. Meskipun gadis itu duduk membelakangiku, tapi saat itu aku yakin dia adalah gadis yang beberapa kali kulihat di tempat itu.
“Kesempatan nih mumpung ada waktu!”Aku bicara sendiri dalam hati.”Hai…!”Tegurku langsung secara halus. Perlahan-lahan kucoba duduk disampingnya.
“Hai juga, Mas.”Respon gadis itu sambil tersenyum manis.
“Oya, namaku Edi, fakultas Bahasa Inggris.”Kataku sambil mengulurkan tangan.
“Aku Ayu, dari fakultas Bahasa Inggris juga.”responnya saat menjabat tanganku.
“Berarti sama donk!”Tegasku. lalu kami berdua tertawa kecil.
“Oya, btw….Ayu tinggal dimana?”Tanyaku lagi
“Aku tingal di Panti Asuhan Kampus ini.”Katanya menjelaskan
“Berarti….sehari-hari memang di Kampus terus donk!”Tuturku
“Begitulah.”jawabnya santai.
“Kalo boleh tau lagi, dari tempo hari aku slalu lihat duduk disini terus, emang nunggu siapa sih?Tanyaku ingin tau.
Mendengar pertanyaanku tersebut, entah kenapa tiba-tiba perempuan yang baru ku tau bernama Ayu itu tiba-tiba beranjak dari duduknya seraya berkata,”Aku duduk disini setiap waktu, karena tempat ini nyaman buatku,”Sahutnya sambil berlalu dari hadapanku.
Sempat terlintas dipikiranku bahwa ada yang salah dari pertanyaanku sehingga ia langsung saja pergi menjauh. Namun, dipikiranku yang terpenting aku sempat berkenalan dengannya, dan itu sudah lebih dari cukup.
Kuhela nafas panjang, kukuatkan lagi tas ransel hitam di punggungku, lalu kubergegas turun dari gedung yang remang itu. Eh, di bawah aku bertemu dengan Tami, salah satu dari teman kelasku yang sedang duduk disebuah bangku di teras sekolah.
“Hai, Mi…..kok belum pulang?”Tegurku.
“Aku males pulang ujan-ujan gini.”Sahutnya sambil menyilangkan tangan. Rupanya aku tak sadar bahwa saat itu memang sedang hujan.”Lagian aku mau keatas gedung lantai 3 nih!”sambungnya. Obrolan kami sejenak terhenti saat hiruk pikuk teman-teman lainnya terdengar saat turun ke bawah untuk pulang. Sesekali dari mereka ber say “hai” kpd aku dan Tami.
“Mau ngapain ke atas sendiri? Gak takut apa? Tanyaku terheran-heran.
“Itu dia yang yang pingin aku cari tau. Aku gak percaya gedung atas itu berhantu. Itu harus kubuktikan sendiri.”Ungkapnya dengan serius. Emang dia adalah satu-satunya teman kelasku yang paling pemberani.
“Tami…..!”ada-ada saja kamu…!”sergahku sambil mengamit bahunya. Rupanya ia tak mau mendengar perkataanku. Tanganku dilepaskannya dan tanpa basa-basi lagi berlari ke atas gedung.
Aku benar-benar diliputi rasa kekhawatiran saat itu, tak tau apa yang harus kuperbuat. Aku benar-benar “stark” sendiri di teras. Namun, pada akhirnya kuputuskan untuk menyusulnya ke atas gedung.
Dengan rasa was-was dan takut, menuntutku untuk naik ke atas, mulai dari tangga lantai 1, lantai 2, dan ahirnya sampai juga di lantai 3. Nafasku turun naik dengan jiwaku gelisah di dalam gedung yang remang itu.
“Tami…..! Kamu dimana…?”Panggilku menggema ke setiap sudut ruangan. Tak ada jawaban. Kuterus melangkah dengan perlahan seperti orang yang tak tentu arah.
Keadaan beberapa menit hening. Namun, dari penjuru yang tak jelas kudengar sebuah rintihan.
“Kak Ediiiiii……! Tolong akuuuu……!”Suara rintihan itupun menggema. Aku yakin suara rintihan itu adalah suara Tami. Kupercepat langkahku berlari ke setiap sudut ruangan, dari ruangan satu ke ruangan yang lain. Suara itu kembali terdengar dan kala itu terdengar di belakangku. Rintihan itu semakin terdengar seperti orang yang tengah diseret.
“Tolong akuu, Kak…!”Rintihan suara itu terus bersambut, dan semakin terdengar dibelakangku, tepatnya di dekat tangga lantai 3.
Kuputar langkah kakiku menyusuri sumber suara itu. Mataku terbelalak melihat cucuran darah yang menempel di lantai. Semakin kutelusuri ceceran darah itu, hingga detik itu kumendengar suara menggelinding di bawah tangga. Kuberlari dengan keringat mengucur. Di atas tangga langkahku terhenti. Mataku melotot tajam tak percaya dengan apa yang kulihat. Di bawah anak tangga kutemukan Tami terkulai lemas bersimbah darah dan tewas seketika. Kubersimpuh sambil berteriak histeris.
“Tamiiiiiii……….!”
Sungguh ku tak habis pikir dengan kejadian-kejadian tragis yang beruntun terjadi, dan yang menjadi korban adalah teman-temanku sendiri. Hari-hari kemudian aku merasa jenuh dan sering membuatku menyendiri di mushalla kampus. Seusai shalat, sore itupun demikian, kusandarkan bahuku pada dinding mushalla yang bercat putih itu. Sesekali kuperhatikan Mas Irwan yang sedang bersih-bersih di mushalla. Mas Irwan adalah Alumni kampus beberapa tahun lalu dan dia adalah anak Panti Asuhan yang cukup dikenal oleh para Mahasiswa disana. Maklum, dialah yang sering terlihat bersih-bersih di Mushalla kampus.
Sebentar-sebentar pikiranku melayang jauh kembali, dan anehnya tiba-tiba kuteringat Ayu, gadis yang sering kutemui di tangga.
“Kenapa gadis itu s’lalu ada di tangga ya, setiap kali sebelum kejadian demi kejadian tragis itu terjadi? Siapa sebenarnya gadis itu?”Tanyaku dalam hati.
Pertanyaan demi pertanyaan yang mencuat di pikiranku membuat rasa curiga timbul di hatiku. Rupanya gayung bersambut, Mas Irwan yang sedari tadi bersih-bersih, ternyata masih di sampingku mengerjakan rutinitasnya tersebut.
“Aku mesti Tanya Mas Irwan nih, karena seingatku gadis itu pernah bilang kalau ia tinggal di Panti juga.”Kataku dalam hati. Kumengadah ke atas, hujan turun, namun tak menyurutkan niatku untuk menghampiri anak Panti itu.
“Mas Irwan……! Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, Mas!”Kataku sesaat berada disampingnya.
“Tentang apa, Mas?”Sahut Mas Irwan kembali bertanya sembari meletakkan sebuah alat pembersih pada dinding Mushalla.
“Mas Irwan kenal Ayu?”Tanyaku sambil menatap wajahnya.
“A…….Ayu Artati?”Ucapnya menegaskan dengan suara sedikit menggetar. Aku terperangah melihat wajahnya yang sesekali berubah drastis.Lama aku menanti bibirnya  tuk bergeming memberi jawaban. Ku tak mendapat jawaban apapun, sebaliknya ia langsung keluar dari mushalla meninggalkanku.
Keesokan harinya, tanpa berpikir panjang lagi, aku nekat mencari Mas Irwan ke Panti asuhan. Saat itu ia tak bisa menghindar lagi dariku. Di hadapannya kumemohon agar ia menceritakan tentang gadis yang sebelumnya sempat ia sembunyikan identitasnya dariku.
“Baiklah…..kalau Mas bersikeras ingin tau, ikut aku skrg.”Perintahnya sambil berjalan ke salah satu ruangan di Panti itu. Aku hanya bisa ngikut di belakangnya. Setelah masuk ke dalam, ia menyerahkan sebuah album tua kepadaku. Semula aku tak faham dengan maksudnya memberikan album tua tersebut. Perlahan kubuka, Nampak beberapa photo bersamanya dengan Ayu yang terlihat di setiap lembar album tua itu.
“Itu dulu photoku bersama Ayu, perempuan yang kamu tanyakan itu. Saat itu kami masih kuliah disini.”Katanya tiba-tiba terucap dengan nada sendu.
“Apakah Ayu teman sekelasnya Mas Irwan…?”Tanyaku dengan nada agak tinggi.
“Ya benar.”Jawabnya sambil menyandarkan bahu pada dinding ruangan itu.”Ayu bukan hanya teman sekelasku, ia adalah sahabat terdekatku saat itu. Kami pun tinggal bersama di Panti ini sebelum peristiwa itu terjadi.”Tambahnya dengan nada terisak, matanya pun berkaca-kaca.
“Peristiwa apa, Mas?”Tanyaku tak sabar seraya mengamit kedua bahunya. Perlahan-lahan bibirnya menuturkan kata-kata.
“Sewaktu kuliah, Ayu termasuk mahasiswi yang cerdas bila dibanding teman-teman lainnya meski lahir dari keluarga tak mampu. Ia selalu mendapat prestasi baik sehingga semua kalangan Dosen menyayanginya. Namun, kelebihannya itu justru membuat malang nasibnya. Rasa dengki dan iri timbul di hati teman-temanya. Pada suatu hari ia dikeroyok di tangga lantai 3 hingga terjatuh dan tewas seketika.”Kata Mas Irwan dengan air mata yang sudah menetes di wajahnya.
“Tewas….?!”Tanyaku kaget sambil memegang kepala. Detik itu aku benar-benar shock mendengar penuturan Mas Irwan. Bagaimana tidak, berarti gadis yang berkali-kali kujumpai di tangga lantai 3 itu adalah arwahnya Ayu.
Tiap kali bila teringat semua yang telah diceritakan oleh Mas Irwan membuatku jadi merinding. Setelah itu, sungguh kutak berharap lagi berjumpa dengan gadis itu di tangga. Namun, disisi lain pikiranku jadi “parno”, wajahnya s’lalu terbayang di pelupuk mataku dan parahnya lagi aku s’lalu berpikir arwahnya mengikuti setiap jejak langkahku. Ngeri rasanya!
Tiga hari kemudian, seolah tak terjadi apa-apa kujalani lagi aktivitasku di kampus. Hanya aku sendiri yang tau bahwa hatiku sedang kacau dan semua tu membuatku jadi tak konsentrasi belajar di kelas. Saat pelajaran usai, aku dan teman-teman lainnya serentak keluar ruangan dan turun dari lantai 3. Beberapa menit saja aku sudah sampai di teras lantai dasar. Disaatku rogoh saku celana jeansku, disanalah aku sadar kalau hpku tertinggal di kelas. Aku sedikit panik, dan rasa panik itulah yang membuatku menerobos kembali ke kelas. Aku sempat terlupa dengan kejadian-kejadian seram di tangga lantai 3 tersebut. Kuterus berjalan ke atas menaiki tangga demi tangga di gedung kampus itu. Pada saatku naik di tangga lantai 3, entah mengapa kakiku tiba-tiba terhenti di pertengahan anak tangga tersebut. Seperti ada suara terdengar di bawah tangga. Kubalikkan badan seraya menyermatinya, namun ku tak melihat sesuatupun jua. Lama kuterpaku berdiri dengan jantung yang berdegub kencang karena rasa takut yang ada. Beberapa detik saja aura aneh itu berubah arah dan seperti berada di atas tangga. Bulu kudukku pun mulai berdiri. Sesaat kubalikkan badan dan menghadap ke atas. Tepat di ujung anak tangga berdiri sesosok mahluk yang tak lain adalah arwahnya Ayu yang tengah berdiri berhadapan denganku. Betapa paniknya aku ! Jiwaku terasa lepas dari ragaku. Aku pun teriak histeris ketakutan hingga terpeleset dari anak tang itu hingga tak sadarkan diri. Entah apa lagi yang terjadi setelah itu, aku tak tau. Jelasnya, ketika siuman aku sudah berada di rumah, kuceritakan semua kejadian yang terjadi di depan mataku itu kepada orang tuaku. Aku benar-benar trauma dan rasanya tak sanggup lagi untuk kembali ke kampus baruku itu. Syukurlah, orang tuaku mengerti dan akhirnya memberikanku lampu hijau untuk pindah ke kampus lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar