Misteri Kampus Baru
By:Anang
guman
Genre
:horror
Kisah ini terjadi beberapa tahun
lalu, ketika aku menjadi mahasiswa baru di sebuah kampus swasta di kotaku.
Waktu itu aku mengambil jurusan bahasa inggris, karena itu adalah satu-satunya
pilihanku. Minggu pertama kuliah kulewati dengan semangat, lebih-lebih lagi aku
terpilih menjadi ketua tingkat di kelas, semua itu menambah motivasiku. Sungguh
tak percaya mengapa teman-teman menunjukku sebagai ketua tingkat mereka. Namun,
dari sanalah aktivitasku sedikit lebih sibuk dari teman-teman yang lainnya.
Setiap hari harus datang lebih awal dan pulang kadang paling akhir. Mungkin
itulah konsekuensinya, ada-ada saja tugas yang diberikan dosen yang dititipkan
kepadaku untuk selanjutnya diberikan untuk teman teman.
Layaknya kampus swasta lainnya yang
mempunyai jadwal kuliah sore, di kampusku pun demikian. Kadang kuliah sore
kadangpula kuliah malam. Pada saat minggu kedua perkuliahanpun terasa mulai
aktif digelar dan tugas-tugas pun sudah mulai padat. Namun, bersamaan dengan
kesibukan itu disanalah aku mulai merasa ada yang aneh di kampus baruku itu.
Kebetulan ruang kelas kami berada di lantai 3 paling atas, ruangannya terpisah
jauh dari kelas-kelas lain, seperti kelas yang memojok sendiri. Suasana
gedungnya pun terasa beda, agak gelap karena semua tertutup udara dan tidak ada
celah cahaya yang bisa masuk ke dalam. Sampai suatu hari perkuliahan malam pun
digelar. Tepat pukul tujuh malam aku dan beberapa teman lainnya sudah berada di
kampus menunggu kehadiran dosen kami. Hari tu nampaknya cukup buruk, langit
tiba-tiba berkabut lalu hujan. Tapi syukurlah, dosen yang kami tunggu datang
juga dan memintaku untuk memberi komando kepada teman-teman untuk masuk keruang
kelas terlebih dahulu. Sementara, seperti biasanya aku masih di luar menghadap
dosen sebelum kelas dimulai. Teman-teman pun berbondong-bondong naik ke ruang
lantai 3. Seusai menghadap dosen aku pun menyusul teman-teman dari belakang.
Tepat disaat aku hendak menaiki tangga lantai 3, dikarenakan suasana yang
memang agak gelap, hampir saja aku menabrak seorang gadis yang tengah duduk di
tangga itu.
‘’Maaf, Mbak, hampir saja aku tabrak tadi….!”sahutku spontan.
Aku heran karena gadis itu tidak
bergeming sedikitpun meresponku. Gadis itu malah menunduk menatap lantai. Yach karena
waktu itu aku buru-buru masuk kelas, akupun bergegas melewatinya.
Satu jam kemudian
perkuliahanpun usai digelar. Satu persatu dari teman-teman keluar meninggalkan
ruangan perkuliahan tersebut. Di saat itu hanya aku sendiri yang sibuk mengecek
buku-buku di dalam tas kalau-kalau ada yang tertinggal nanti. Saatku
memalingkan wajah kedepan ternyata aku sadar kalau saat itu aku tak sendiri,
disana ada salah satu dari teman kelasku yang masih terduduk di bangku. Sebut
saja namanya Dian. Dia adalah satu-satunya dari teman kelasku yang agak berbeda
dari yang lainnya. Dia gadis pendiam dan jarang berkumpul dengan teman-teman
lainnya.
“Kok masih bengong sendiri di kelas
nih? Gak takut ya kalau nantinya dirasukin ma penunggu kelas ini? Sahutku
menggodanya.
“Ah side nich nakut-nakutin aja.
Bentar aja aku dah keluar kok.” Sahutnya sambil memasukkan buku-bukunya yang
masih tercecer di atas meja. Side duluan dah sana nanti aku susul.” Tambahnya
“ Ok deh….aku duluan kalo gitu.”
Ucapku meninggalkan ruangan kelas. Langkahku sengaja kuperlambat agar ia dapat
menyusulku kemudian. Sesekali kumenengok kebelakang namun raganya tak kunjung
keluar juga dari pintu kelas itu. Tiba-tiba perasaanku menjadi tak enak.
Spontan saja kuputar langkahku untuk kembali ke ruang perkuliahan tersebut.
Dengan nafas sedikit
tersengal kuberlari kecil. Sesampainya di pintu kelas, jantungku berdetak
keras, sangat terperanjat dengan apa yang kulihat. Si Dian yang baru saja
sempat bercakap-cakap denganku, tapi detik itu ia kesurupan di dalam kelas.
Seakan kumelihat mahluk lain di dalam ruangan itu, tubuh Dian terbujur kaku di
bangku dengan bibirnya komat-kamit seperti mengucap mantra. Jelasnya ia
kesurupan waktu itu. Spontan saja aku berteriak panik meminta pertolongan.
Beberapa teman dan Dosen pun berhamburan naik ke atas dan memberikan
pertolongan mereka.
Sejak kejadian aneh itu,
di hatiku kadang timbul firasat kurang baik dari hari ke hari di gedung lantai
3 itu. Aku merasa ada yang tidak beres dan terasa angker.
Tiga hari setelah
kejadian itu, musibah besar pun terjadi. Dan itu sangat menghantam pikiran dan
perasaanku. Bagaimana tidak, Dian yang sebelumnya kesurupan di kelas, namun
pada hari berikutnya ditemukan tewas terjatuh di tangga lantai 3. Kepalanya
terbentur keras dan mengalami cidera hebat hingga tak bisa tertolong lagi.
Kejadian tragis itu
sangat mengguncang pihak kampus. Rasa duka mendalam pun dirasakan oleh
teman-teman semuanya, mereka tak menyangka peristiwa itu bisa terjadi. Disisi
lain, setelah peristiwa itu, perasaan teman-teman menjadi was-wasa dan ada rasa
takut menghinggapi jiwa mereka. Terlebih lagi tatkala melewati tangga lantai 3
tempat kejadian itu setiap kali masuk kuliah. Aku pun juga tidak bisa menampik
semua itu, karena aku terkadang terbayang-bayang wajah Dian setiap kali
melewati tangga yang remang itu. Seperti halnya hari itu, karena tak ada jalan
masuk lain, akupun harus melewati tempat itu lagi. Namun, perasaan aneh itu
tiba-tiba saja teralihkan, karena belum saja aku sempat menaikkan kaki di anak
tangga pertama, di pertengahan anak tangga tersebut kumelihat lagi seorang
gadis yang tempo hari juga kutemukan duduk di posisi itu. Raut wajah gadis itu
lumayan cantik, ia menyingkap rambut yang menutup wajahnya seraya tersenyum
padaku. Semula ada rasa ingin berkenalan dengannya. Namun, karena pelajaran
sudah mulai, aku pun buru-buru masuk kelas.
Pelajaran tak berlangsung
lama, satu jam kemudian kami pun keluar ruangan. Beberapa dari teman kelasku
sudah turun dari lantai 3, sementara aku dan beberapa teman lainnya masih berada
di atas gedung. Semula suasana Nampak tenang ketika kami tengah asyik
bercakap-cakap sambil jalan di lantai 3 tersebut. Namun, tiba-tiba kami
mendengar suara gaduh dan seperti suara seseorang yang minta tolong. Kami pun
berlari mencari sumber suara itu. Semua ruangan kami geledah dengan seksama dan
ternyata suara itu berasal dari dalam kamar mandi yang terletak dekat tangga
lantai 3 tersebut.
“Tolong…..tolong saya!” begitulah
suara rintihan yang terdengar. Aku dan keempat teman laki-laki lainnya mendobrak
pintu toilet itu sampai terbuka. Kami terperangah, karena di dalamnya terdapat
salah seorang security di kampus kami, Pak Saedun. Dari penuturan Pak Saedun
bahwa ia terkunci sejak 2 jam sebelumnya di toilet itu. Ia pula menjelaskan
bahwa sebelum masuk ke toilet itu, ia sempat melihat seorang gadis yang berdiri
di dekat tangga.
Mendengar penuturan
security tersebut, beberapa diantara teman-teman mengernyitkan dahi seraya
berpikir siapa gadis yang dimaksudkan itu. Namun, belum saja kepanikan itu
reda, sebuah teriakan terdengar lagi di bawah tangga. Suasana pun mencekam
kembali. Aku dan sebagian teman terpaksa meninggalkan Pak Saedun dan berlari
mengecek ke bawah tangga. Tepat di lantai dekat anak tangga kami menemukan
seorang mahasiswi yang tengah kesurupan.
“Ya Allah, ada apa lagi ini?”Tanyaku
dalam hati. Tak lama kemudian mahasiswi yang kesurupan itu kami bawa ke ruang
akademik.
Setelah kejadian demi
kejadian terjadi di kampus itu, terang saja menjadi hiruk pikuk perbincangan di
kalangan mahasiswa. Obrolan demi obrolan yang terdengar hanya membahas prihal
tersebut. Seperti halnya ketika itu, tatkala Dosen berhalangan hadir, topic itu
tak henti-hentinya dibahas oleh teman-teman. Hatiku jenuh dengan semua itu,
tanpa bermaksud menyisihkan diri keluar dan berharap menemukan udara segar di
luar kelas. Sedikit kupercepat langkahku untuk segera turun dari lantai 3
tersebut, namun tak seberapa jauh dari pandanganku, tepat di tangga kumelihat
seorang gadis tengah terduduk. Meskipun gadis itu duduk membelakangiku, tapi
saat itu aku yakin dia adalah gadis yang beberapa kali kulihat di tempat itu.
“Kesempatan nih mumpung ada
waktu!”Aku bicara sendiri dalam hati.”Hai…!”Tegurku langsung secara halus.
Perlahan-lahan kucoba duduk disampingnya.
“Hai juga, Mas.”Respon gadis itu
sambil tersenyum manis.
“Oya, namaku Edi, fakultas Bahasa
Inggris.”Kataku sambil mengulurkan tangan.
“Aku Ayu, dari fakultas Bahasa
Inggris juga.”responnya saat menjabat tanganku.
“Berarti sama donk!”Tegasku. lalu
kami berdua tertawa kecil.
“Oya, btw….Ayu tinggal
dimana?”Tanyaku lagi
“Aku tingal di Panti Asuhan Kampus
ini.”Katanya menjelaskan
“Berarti….sehari-hari memang di
Kampus terus donk!”Tuturku
“Begitulah.”jawabnya santai.
“Kalo boleh tau lagi, dari tempo hari
aku slalu lihat duduk disini terus, emang nunggu siapa sih?Tanyaku ingin tau.
Mendengar pertanyaanku
tersebut, entah kenapa tiba-tiba perempuan yang baru ku tau bernama Ayu itu
tiba-tiba beranjak dari duduknya seraya berkata,”Aku duduk disini setiap waktu,
karena tempat ini nyaman buatku,”Sahutnya sambil berlalu dari hadapanku.
Sempat terlintas dipikiranku bahwa
ada yang salah dari pertanyaanku sehingga ia langsung saja pergi menjauh.
Namun, dipikiranku yang terpenting aku sempat berkenalan dengannya, dan itu
sudah lebih dari cukup.
Kuhela nafas panjang,
kukuatkan lagi tas ransel hitam di punggungku, lalu kubergegas turun dari
gedung yang remang itu. Eh, di bawah aku bertemu dengan Tami, salah satu dari
teman kelasku yang sedang duduk disebuah bangku di teras sekolah.
“Hai, Mi…..kok belum pulang?”Tegurku.
“Aku males pulang ujan-ujan gini.”Sahutnya
sambil menyilangkan tangan. Rupanya aku tak sadar bahwa saat itu memang sedang
hujan.”Lagian aku mau keatas gedung lantai 3 nih!”sambungnya. Obrolan kami
sejenak terhenti saat hiruk pikuk teman-teman lainnya terdengar saat turun ke
bawah untuk pulang. Sesekali dari mereka ber say “hai” kpd aku dan Tami.
“Mau ngapain ke atas sendiri? Gak
takut apa? Tanyaku terheran-heran.
“Itu dia yang yang pingin aku cari
tau. Aku gak percaya gedung atas itu berhantu. Itu harus kubuktikan sendiri.”Ungkapnya
dengan serius. Emang dia adalah satu-satunya teman kelasku yang paling
pemberani.
“Tami…..!”ada-ada saja
kamu…!”sergahku sambil mengamit bahunya. Rupanya ia tak mau mendengar
perkataanku. Tanganku dilepaskannya dan tanpa basa-basi lagi berlari ke atas
gedung.
Aku benar-benar diliputi
rasa kekhawatiran saat itu, tak tau apa yang harus kuperbuat. Aku benar-benar
“stark” sendiri di teras. Namun, pada akhirnya kuputuskan untuk menyusulnya ke
atas gedung.
Dengan rasa was-was dan
takut, menuntutku untuk naik ke atas, mulai dari tangga lantai 1, lantai 2, dan
ahirnya sampai juga di lantai 3. Nafasku turun naik dengan jiwaku gelisah di
dalam gedung yang remang itu.
“Tami…..! Kamu dimana…?”Panggilku
menggema ke setiap sudut ruangan. Tak ada jawaban. Kuterus melangkah dengan
perlahan seperti orang yang tak tentu arah.
Keadaan beberapa menit hening. Namun,
dari penjuru yang tak jelas kudengar sebuah rintihan.
“Kak Ediiiiii……! Tolong
akuuuu……!”Suara rintihan itupun menggema. Aku yakin suara rintihan itu adalah
suara Tami. Kupercepat langkahku berlari ke setiap sudut ruangan, dari ruangan
satu ke ruangan yang lain. Suara itu kembali terdengar dan kala itu terdengar
di belakangku. Rintihan itu semakin terdengar seperti orang yang tengah
diseret.
“Tolong akuu, Kak…!”Rintihan suara
itu terus bersambut, dan semakin terdengar dibelakangku, tepatnya di dekat
tangga lantai 3.
Kuputar langkah kakiku
menyusuri sumber suara itu. Mataku terbelalak melihat cucuran darah yang
menempel di lantai. Semakin kutelusuri ceceran darah itu, hingga detik itu
kumendengar suara menggelinding di bawah tangga. Kuberlari dengan keringat
mengucur. Di atas tangga langkahku terhenti. Mataku melotot tajam tak percaya
dengan apa yang kulihat. Di bawah anak tangga kutemukan Tami terkulai lemas
bersimbah darah dan tewas seketika. Kubersimpuh sambil berteriak histeris.
“Tamiiiiiii……….!”
Sungguh ku tak habis
pikir dengan kejadian-kejadian tragis yang beruntun terjadi, dan yang menjadi
korban adalah teman-temanku sendiri. Hari-hari kemudian aku merasa jenuh dan
sering membuatku menyendiri di mushalla kampus. Seusai shalat, sore itupun
demikian, kusandarkan bahuku pada dinding mushalla yang bercat putih itu.
Sesekali kuperhatikan Mas Irwan yang sedang bersih-bersih di mushalla. Mas
Irwan adalah Alumni kampus beberapa tahun lalu dan dia adalah anak Panti Asuhan
yang cukup dikenal oleh para Mahasiswa disana. Maklum, dialah yang sering
terlihat bersih-bersih di Mushalla kampus.
Sebentar-sebentar pikiranku melayang
jauh kembali, dan anehnya tiba-tiba kuteringat Ayu, gadis yang sering kutemui
di tangga.
“Kenapa gadis itu s’lalu ada di
tangga ya, setiap kali sebelum kejadian demi kejadian tragis itu terjadi? Siapa
sebenarnya gadis itu?”Tanyaku dalam hati.
Pertanyaan demi pertanyaan yang
mencuat di pikiranku membuat rasa curiga timbul di hatiku. Rupanya gayung
bersambut, Mas Irwan yang sedari tadi bersih-bersih, ternyata masih di
sampingku mengerjakan rutinitasnya tersebut.
“Aku mesti Tanya Mas Irwan nih,
karena seingatku gadis itu pernah bilang kalau ia tinggal di Panti juga.”Kataku
dalam hati. Kumengadah ke atas, hujan turun, namun tak menyurutkan niatku untuk
menghampiri anak Panti itu.
“Mas Irwan……! Ada sesuatu yang ingin
aku tanyakan, Mas!”Kataku sesaat berada disampingnya.
“Tentang apa, Mas?”Sahut Mas Irwan
kembali bertanya sembari meletakkan sebuah alat pembersih pada dinding
Mushalla.
“Mas Irwan kenal Ayu?”Tanyaku sambil
menatap wajahnya.
“A…….Ayu Artati?”Ucapnya menegaskan
dengan suara sedikit menggetar. Aku terperangah melihat wajahnya yang sesekali
berubah drastis.Lama aku menanti bibirnya
tuk bergeming memberi jawaban. Ku tak mendapat jawaban apapun,
sebaliknya ia langsung keluar dari mushalla meninggalkanku.
Keesokan harinya, tanpa
berpikir panjang lagi, aku nekat mencari Mas Irwan ke Panti asuhan. Saat itu ia
tak bisa menghindar lagi dariku. Di hadapannya kumemohon agar ia menceritakan
tentang gadis yang sebelumnya sempat ia sembunyikan identitasnya dariku.
“Baiklah…..kalau Mas bersikeras ingin tau, ikut aku skrg.”Perintahnya
sambil berjalan ke salah satu ruangan di Panti itu. Aku hanya bisa ngikut di
belakangnya. Setelah masuk ke dalam, ia menyerahkan sebuah album tua kepadaku.
Semula aku tak faham dengan maksudnya memberikan album tua tersebut. Perlahan
kubuka, Nampak beberapa photo bersamanya dengan Ayu yang terlihat di setiap
lembar album tua itu.
“Itu dulu photoku bersama Ayu,
perempuan yang kamu tanyakan itu. Saat itu kami masih kuliah disini.”Katanya
tiba-tiba terucap dengan nada sendu.
“Apakah Ayu teman sekelasnya Mas
Irwan…?”Tanyaku dengan nada agak tinggi.
“Ya benar.”Jawabnya sambil
menyandarkan bahu pada dinding ruangan itu.”Ayu bukan hanya teman sekelasku, ia
adalah sahabat terdekatku saat itu. Kami pun tinggal bersama di Panti ini
sebelum peristiwa itu terjadi.”Tambahnya dengan nada terisak, matanya pun
berkaca-kaca.
“Peristiwa apa, Mas?”Tanyaku tak
sabar seraya mengamit kedua bahunya. Perlahan-lahan bibirnya menuturkan
kata-kata.
“Sewaktu kuliah, Ayu termasuk
mahasiswi yang cerdas bila dibanding teman-teman lainnya meski lahir dari
keluarga tak mampu. Ia selalu mendapat prestasi baik sehingga semua kalangan
Dosen menyayanginya. Namun, kelebihannya itu justru membuat malang nasibnya.
Rasa dengki dan iri timbul di hati teman-temanya. Pada suatu hari ia dikeroyok
di tangga lantai 3 hingga terjatuh dan tewas seketika.”Kata Mas Irwan dengan
air mata yang sudah menetes di wajahnya.
“Tewas….?!”Tanyaku kaget sambil
memegang kepala. Detik itu aku benar-benar shock mendengar penuturan Mas Irwan.
Bagaimana tidak, berarti gadis yang berkali-kali kujumpai di tangga lantai 3
itu adalah arwahnya Ayu.
Tiap kali bila teringat
semua yang telah diceritakan oleh Mas Irwan membuatku jadi merinding. Setelah
itu, sungguh kutak berharap lagi berjumpa dengan gadis itu di tangga. Namun,
disisi lain pikiranku jadi “parno”, wajahnya s’lalu terbayang di pelupuk mataku
dan parahnya lagi aku s’lalu berpikir arwahnya mengikuti setiap jejak
langkahku. Ngeri rasanya!
Tiga hari kemudian,
seolah tak terjadi apa-apa kujalani lagi aktivitasku di kampus. Hanya aku
sendiri yang tau bahwa hatiku sedang kacau dan semua tu membuatku jadi tak
konsentrasi belajar di kelas. Saat pelajaran usai, aku dan teman-teman lainnya
serentak keluar ruangan dan turun dari lantai 3. Beberapa menit saja aku sudah
sampai di teras lantai dasar. Disaatku rogoh saku celana jeansku, disanalah aku
sadar kalau hpku tertinggal di kelas. Aku sedikit panik, dan rasa panik itulah
yang membuatku menerobos kembali ke kelas. Aku sempat terlupa dengan
kejadian-kejadian seram di tangga lantai 3 tersebut. Kuterus berjalan ke atas
menaiki tangga demi tangga di gedung kampus itu. Pada saatku naik di tangga
lantai 3, entah mengapa kakiku tiba-tiba terhenti di pertengahan anak tangga
tersebut. Seperti ada suara terdengar di bawah tangga. Kubalikkan badan seraya
menyermatinya, namun ku tak melihat sesuatupun jua. Lama kuterpaku berdiri
dengan jantung yang berdegub kencang karena rasa takut yang ada. Beberapa detik
saja aura aneh itu berubah arah dan seperti berada di atas tangga. Bulu kudukku
pun mulai berdiri. Sesaat kubalikkan badan dan menghadap ke atas. Tepat di
ujung anak tangga berdiri sesosok mahluk yang tak lain adalah arwahnya Ayu yang
tengah berdiri berhadapan denganku. Betapa paniknya aku ! Jiwaku terasa lepas
dari ragaku. Aku pun teriak histeris ketakutan hingga terpeleset dari anak tang
itu hingga tak sadarkan diri. Entah apa lagi yang terjadi setelah itu, aku tak
tau. Jelasnya, ketika siuman aku sudah berada di rumah, kuceritakan semua
kejadian yang terjadi di depan mataku itu kepada orang tuaku. Aku benar-benar
trauma dan rasanya tak sanggup lagi untuk kembali ke kampus baruku itu.
Syukurlah, orang tuaku mengerti dan akhirnya memberikanku lampu hijau untuk
pindah ke kampus lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar