“AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH”
CERPEN : Anang Guman
Matahari baru saja terlihat
tergelincir ke arah barat, bersamaan dengan usainya pelajaranku di kampus. Sore
itu t’lah kuputuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah, karena kebetulan
rumahku tak begitu jauh dari kampus. Pikiranku menjadi fresh sore-sore berjalan
melintasi persawahan yang membentang di sepanjang jalan dari kampus. Sebentar
saja keringat mengucur di dahiku. “Tak apalah, itung-itung jogging sore-sore.”Kataku dalam hati. Tak
seperti biasanya di jalanan tampak sepi, hanya seorang petani dari kejauhan
terlihat sedang menggarap sawahnya. Sesaat kemudian, tak biasanya juga angin
berhembus agak kencang menerpa rambut panjangku yang terurai. Tiba-tiba saja
sebuah kendaraan melintas dari belakangku. Sekilas aku melihat pengendara itu
adalah seorang pemuda mengenakan baju koko lengkap dengan songkok putih dan
sorban yang diselempangkan di bahunya. Mungkin dikarenakan tiupan angin yang
begitu kencang sehingga membuat sorban yang dikenakan pemuda itu jatuh di
jalan. Akupun berlari kecil mendekati kain yang berwarna putih itu dan
meneriaki pemuda tersebut.
“Mas Ustaaadz.....sorbanya
jatuh!”Teriakku sekenanya. Namun, teriakanku
tak didengar oleh pemuda berpakaian muslim itu, dan terus melaju lalu
menghilang dari penglihatanku. Tak seberapa jauh dari jatuhnya sorban itu, aku
juga menemukan sebuah tas hitam kecil yang hanya berisikan sebuah Mushaf kecil
di dalamnya.
“Sepertinya kedua barang
tersebut adalah milik pemuda yang melintas tadi.”Tanya hatiku. Sore itu aku benar-benar tak habis pikir
kejadian uniq itu aku alami. Sambil menggeleng-gelengkan kepala sorban putih
itu aku lipat dengan rapi, aku masukkan ke dalam tas gendong kecil itu lalu
kuberanjak pergi.
Sesampainya di rumah seolah lupa dengan kejadian yang
kualami, kuberdiri di balik jendela kamarku. Kebetulan kamarku berada di lantai
dua berdekatan dengan menara mesjid dekat rumah, sehingga di balik jendela
tersebut aku terbiasa melihat muda-mudi berlalu-lalang datang untuk shalat
berjamaah di mesjid. Rasanya jendela kamar tersebut adalah tempat yang nyaman
di hatiku, sebagai tempatku menyandarkan diri dikala lelah. Kadangpula aku
menganggapnya seperti sahabatku sendiri, tempatku mencurahkan segala perasaan
hatiku, senang dan sedih. Seolah benda mati itu t’lah tau semua kisah hidupku,
yaitu aku adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga bekecukupan, ayahku
adalah seorang Direktur di salah satu Bank di Mataram. Rasanya aku tak pernah
kekurangan suatu apapun. Terlebih lagi aku adalah anak semata wayang di
keluargaku. Semua yang kuinginkan selalu dituruti oleh ayah. Namun, semua yang
kumiliki tersebut ternyata tak membuatku bahagia. Aku sering dirundung rasa
sedih dan kesepian dalam hidup, terlebih lagi jika mengingat Ibu yang t’lah
lama tiada. Ayah hanya menuruti segala kemauanku dalam hal materi, namun dalam
hal didikan agama tak pernah aku dapatkan darinya. Terkadang aku merasa risih
dengan diriku sendiri karena hingga usiaku menginjak 20 tahun masih kesulitan
dalam melafalkan Al-qur’an layaknya orang-orang. Kadangpula terbesit dihatiku
akan datangnya seorang laki-laki dalam hidupku, yang bisa kujadikan imam, yang
bisa membimbingku dalam agama. Namun itu hanya angan-angan belaka, karena
setiap laki-laki yang pernah dekat denganku pada akhirnya menjauh setelah
mengetahui aku adalah gadis dari kalangan berada. “ Ya Allah...tunjukkanlah
jalanMU!”Ucapku di hati. Seiring
dengan pintaku tersebut tanpa terasa suara adzan magrib memecahkan angan-angan
dan lamunan panjangku saat itu. Tak seberapa lama saat usainya adzan
dikumandangkan di balik jendela kumelihat satu persatu jamaah mulai
berdatangan. Diantara jamaah tersebut, ada salah satu jamaah yag mencuri
tatapan mataku, yaitu seorang pemuda asing yang bertandang shalat di mesjid itu.
Berjuta-juta pertayaan muncul di hatiku tentang pemuda tersebut. Namun, aku
hanya bisa melihatnya sekilas saja, karena sesaat saja pemuda tersebut masuk ke
dalam mesjid dan menghilang dari tatapanku. Dengan hatiku yang masih penasaran
kututup jendela kamar lalu segera menunaikan juga kewajibanku untuk shalat.
Sejak saat itu, pemuda tersebut semakin sering kulihat
datang ke mesjid. Diam-diam aku sering memperhatikannya di balik jendela kamar.
Bahkan, tak jarang sepulang kuliah aku langsung berdiri di dekat jendela tak
sabar untuk melihatnya segera melintas di samping rumah. Pemuda itu terlihat
begitu shalih mengenakan baju koko berwarna putih nan rapi. Sungguh mulia
pribadi yang dimilikinya, ditambah lagi dengan raut wajahnya yang rupawan,
kedua hal tersebut membuat hatiku secara diam-diam mulai mengaguminya. “Alangkah bahagianya seorang wanita yang akan menjadi
pendampingnya kelak...!”Ucap hatiku setiap kali
melihatnya.
Sore itu entah kenapa tiba-tiba aku
teringat saudara sepupuku, sebut saja namanya Nurul. Kebetulan ia adalah
satu-satunya sepupu yang paling dekat denganku, yang paling mengerti aku.
Rasanya t’lah lama tak bersua lagi dengannya dikarenakan kesibukanku kuliah.
Aku rindu celotehannya, keceriaannya, maka saat itu juga kuputuskan untuk
menemuinya, rumahnya hanya beberapa meter saja dari rumahku. Sesaat saja ku
t’lah dapat menemuinya, tepat di teras rumahnya kami bercengkrama dan obrolan
pun berlangsung. “Eh, Kak Dian tau gak kalau Abang Herman pulang dari Malang ?”Tanya Nurul tiba-tiba mengagetkanku. “Bang Herman dah pulang ? Beneran , Nur?”Tanyaku lagi seolah tak percaya. “Iya, udah dua minggua kok Abangku di sini. Kak Dian saja tuh
yang kelewat sibuk kuliah sampai gak tau kabar kakak sepupunya sendiri.’’Protes
Nurul kepadaku. Dalam
hati kumerasa senang mendengar kabar kedatangan saudara sepupuku tersebut,
terlebih lagi semenjak 2 tahun ia kuliah di Malang belum pernah kulihat lagi.
Ketika aku dan Nurul baru saja hendak melanjutkan obrolan tiba-tiba Kak Herman
muncul di balik pintu.
“Assalamualaikum...!”Ucap salam Kak Herman
kepadaku dengan wajah sumringahnya. “Waalaikum salam...!”Balasku seraya menoreh ke
arahnya. Namun, mataku tiba-tiba terbelalak akan sesuatu yang tak kuduga-duga.
Di samping Kak Herman t’lah berdiri juga seorang laki-laki yang sudah sangat
akrab di mataku. Ia adalah seorang laki-laki yang sering kulihat melintas di
depan rumah, yang tak lain adalah laki-laki shalih yang sering datang ke mesjid
untuk shalat itu.
“Maaf jadi mengganggu percakapan kalian. Oh ya, aku kenalkan
sahabatku nih, satu kampus denganku di Malang.’’Kata Suherman memperkenalkan
sahabatnya tersebut kepadaku. Aku pun sempat beranjak sejenak dari tempat duduk
untuk saling berjabat tangan. Walhasil, dari perkenalan itulah aku mengetahui
bahwa laki-laki shalih itu bernama Reza......lengkapnya Reza Abdullah.
Singkat
kata, sejak saat itu aku pun mulai menjalin persahabatan dengannya. Hari demi
hari berlalu kami pun akhirnya mulai akrab satu sama lain. Tak jarang aku
sengaja menemuinya untuk menimba ilmu agama karena minimnya pengetahuan agama
yang kumiliki. Ia pun dengan senang hati membantuku dalam mendapatkan
pencerahan dalam hidup. Sedikit demi sedikit aku pun mulai tau tentang dirinya,
tentang dirinya yang berasal dari keluarga terpandang di Jawa. Di sisi lain aku
juga tau maksud kedatangannya ke Lombok, selain untuk mengisi liburan panjang
tapi juga untuk mengikuti MTQ Tingkat Nasional yang kebetulan digelar di
Mataram. Ia adalah salah satu peserta yang akan mewakili daerahnya. Alangkah
takjubnya aku tatkala mendengar semua itu, mendengar semua kelebihan yang
dikaruniakan Allah kepadanya!
Seminggu kemudian, waktunya pun
tiba yaitu malam dimana para Qori’ dan Qori’ah berkumpul untuk melantunkan
ayat-ayat suci Al-qur’an dengan suara indah mereka. Di sana ada aku, Nurul dan Kak
Suherman ikut menemani Mas Reza demi menyemangatinya. Saat itu tampak ribuan
orang membanjiri tempat tersebut seolah ingin menjadi saksi malam yang penuh
khidmat itu. Panggung dimana tempat para pelantun Al-qur’an itu berdiri megah
bernaung di bawah langit yang bertabur bintang bak hamparan permata. Tak sabar
hatiku ingin menyaksikan penampilan Mas Reza di atas panggung tersebut, mungkin
itu juga yang dirasakan oleh kedua sepupuku saat itu. Alhamdulillah, Mas Reza
mendapat urutan peserta pertama saat itu. Suasana pun hening seketika saat Mas
Reza naik ke atas panggung. Mungkin aku adalah orang yang pertama paling takjub
mendengar Mas Reza ketika tengah melantunkan ayat-ayat suci tersebut.
Subhanallah, suaranya begitu indah dan menyentuh hatiku yang mendengarnya!
Rasanya tak dapat kupungkiri lagi
kekagumanku kepadanya semakin mendalam. Detik demi detik dan hari demi hari
perasaan itu mulai mengembang dan t’lah tumbuh menjadi sebuah perasaan cinta
terhadapnya. Aku ibarat pengagum rahasianya yang memendam cinta kasih yang tak
pernah diketahui olehnya. Pernah terlintas dipkiranku untuk mengutarakan
perasaanku kepadanya, tapi lagi-lagi hati kecilku mengatakan bahwa aku adalah
seorang wanita dan rasanya tak pantas melakukannya. Kadang perasaan itu
membuatku tersiksa dan membuatku menangis dalam hati. Sampai suatu ketika
kuputuskan untuk menemui saudara sepupuku, Nurul. Dengan terbata-bata
kuceritakan semua yang kurasakan kepadanya dengan harapan meminta pertimbangan
darinya. Setelah mendengar curahan hatiku, Nurul menghela nafas panjang sebelum
mengucap beberapa patah kata dari bibirnya.
“ Kak Dian....Kak Dian Lestariku yang baik , aku ngerti apa yang Kakak rasakan saat ini.
Boleh-boleh saja kita mencintai seseorang karena keshalihan ataupun karena
kelebihan lainnya yang dimiliki oleh seseorang itu. Namun, jangan sampai kita
mencintai seseorang itu secara berlebihan, apalagi sampai menyiksa diri kita
sendiri. Ingatlah harkat dan martabat kita sebagai perempuan. Hendaknya kita
harus menunggu laki-laki yang terlebih dahulu mendekati dan mengutarakan isi
hatinya kepada kita, tidaklah baik jika kita sebagai perempuan yang
mendahuluinya.’’Ucap Nurul memberikan masukan untukku. Aku hanya bisa terdiam
seraya mencerna nasehat yang diberikan oleh sepupuku tersebut.
Adzan magrib mulai terdengar di
kamarku. Kubasuh wajah ini dengan air wudhu untuk menjalankan kewajibanku.
Kugelar sajadah dan kutunaikan shalatku. Saat itu kumulai merasakan tenang
dalam dilema bathinku. Entah apa yang mengusik pikiranku tiba-tiba teringat
dengan tas kecil yang pernah kutemukan di jalan cukup lama itu. Aku juga tak
habis pikir keinginanku timbul begitu kuat ingin membaca Mushaf di dalam tas
kecil itu. Namun, belum saja aku sempat membacanya kutemukan sesuatu terselip
di lembaran Mushaf yang lengkap dengan terjemahannya itu. Sesuatu yang tak
kusangka dan sulit kupercaya. Sebuah photo ukuran mini dimana wajah di photo
tersebut sangat kukenal dan t’lah melekat di hatiku.
“ Mas Reza....! Teriakku kecil nan parau.’’Jadi selama ini tas
kecil yang t’lah lama kusimpan itu adalah milik Mas Reza! Mushaf dan sorban
putih itu juga adalah milik Mas Reza! Aku harus cepat mengembalikan semua ini
kepada Mas Reza, ia pasti t’lah lama mencari-carinya!’’Gumam hatiku lagi.
Tanpa berpikir panjang lagi detik
itu juga kuayunkan langkahku untuk menemuinya. Namun, tak sesuai dengan
harapanku karena yang kutemukan hanya Nurul seorang diri di rumah.
“Nur,... Mas Reza
mana?’’Kataku tergopoh-gopoh dengan suara terengah. “Mas Reza dan Kak Herman sejak 2 hari yang lalu berangkat ke
Praya hendak mengikuti Ijtima’ Dunia selama 3 hari.’’Kata Nurul yang jelas
mengagetkanku. Tak ada cara lain yang bisa kulakukan selain menjelaskan perihal
kedatanganku dan memelas pertolongannya. Sampai pada akhirnya malam itu juga
Nurul mengantarkanku ke Praya untuk menemui pemuda shalih itu.
Pendek kata, kami pun t’lah
sampai di Praya, tepatnya di sebuah mesjid dimana ribuan umat muslim khususnya
kaum adam melakukan iktikaf tahunan tersebut. Sempat diantara kami berdua ragu
akan dapat berjumpa dengan Mas Reza karena saking banyaknya jamaah yang
berbaur. Namun, di hatiku tetap kukuh dan tetap ingin bertahan meski hanya bisa
mengintai di luar pagar mesjid. Satu persatu jamaah berlalu lalang keluar masuk
mesjid agung itu, harap-harap diantara mereka adalah Kak Suherman dan Mass
Reza. Namun, kedua insan yang kami nanti tak nampak jua diantaranya. Rasanya di
malam itu aku adalah gadis yang paling nekat ingin menemui pujaan hatinya meski
laki-laki tersebut tak pernah tau akan isi hatinya. Sempat air mataku menetes
di pipi karena ada perasaan sangsi untuk dapat berjumpa dengannya di saat
terakhir kalinya di Mataram.
Malam
yang dingin itu bergulir begitu cepat lalu disambut pagi. Di sebuah gubuk kecil
kosong tempatku semalaman melepas lelah dengan Nurul, terdengar tangisku
terisak-isak. Aku menangis karena merasa mimpiku untuk bertemu dengan Mas Reza
tak dapat kupenuhi. Sejenak sepupuku tersebut merangkulku dan mencoba
menenangkan pikiranku, sejatinya mengerti apa yang kurasakan. Sesaat kemudian
setelah perasaanku mulai tenang, kami beranjak dari gubuk yang tak jauh dari mesjid
agung itu. Rasanya tekad kami sudah bulat untuk kembali ke Mataram. Namun,
ketika kami baru saja melangkah dari
tempat itu selintas terdengar suara memanggil di belakang kami.
“Nurul...! Dian...!’’Suara itu persis terdengar di belakang
kami. Serentak saja kami berdua menoleh kearah sumber suara tersebut. Seolah ku
tak percaya dengan apa yang kulihat, tak seberapa jauh dari keberadaan kami
t’lah berdiri dua orang insan yang kami nanti saat itu. Mereka adalah Kak
Herman dan Mas Reza.
“Kak Herman....!’’Teriak girang Nurul sembari berlari kecil ke
arah kakaknya. Aku pun perlahan mendekat pula ke arah mereka. Singkatnya, kulihat
Nurul bercengkrama dengan abang
kesayangannya itu dan menceritakan maksud kedatangan kami berdua menemui
mereka. Ada perasaan gugup di hatiku karena pada akhirnya masing-masing dari
tatapan mereka mengarah padaku. Detik itu ingin kuucap seribu kata tapi seolah
mulutku terkunci tak dapat mengucap sepatah kata. Tiada yang bisa kulakukan
selain memberikan tas kecil dengan Mushaf dan sorban putih kepada Mas Reza yang
sengaja kuhantarkan untuknya. Sejenak ia menyungging senyum manis di bibirnya
dan membenarkan bahwa barang-barang itu adalah miliknya yang pernah hilang
sebelumya. Saat itu perasaanku campur jadi satu diantara rasa bahagia dan rasa
sedih. Aku merasa bahagia karena dapat
berjumpa dengannya di saat terakhir kalinya. Sementara itu, aku pun merasa
sedih karena hingga detik itu ia tak pernah tau akan dalamnya perasaanku,
sebuah perasaan yang tumbuh bukan karena harta dan rupa ataupun kehebatannya, melainkan
karena iman dan taqwa yang ia miliki, dan yang paling utama adalah Karena Aku Mencintainya Karena Allah.
Written by ; anang guman
Mataram 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar