Kamis, 09 Juli 2015

cerpen religi

AKU MENCINTAIMU KARENA ALLAH
CERPEN : Anang Guman
Matahari baru saja terlihat tergelincir ke arah barat, bersamaan dengan usainya pelajaranku di kampus. Sore itu t’lah kuputuskan untuk berjalan kaki pulang ke rumah, karena kebetulan rumahku tak begitu jauh dari kampus. Pikiranku menjadi fresh sore-sore berjalan melintasi persawahan yang membentang di sepanjang jalan dari kampus. Sebentar saja keringat mengucur di dahiku. Tak apalah, itung-itung jogging sore-sore.Kataku dalam hati. Tak seperti biasanya di jalanan tampak sepi, hanya seorang petani dari kejauhan terlihat sedang menggarap sawahnya. Sesaat kemudian, tak biasanya juga angin berhembus agak kencang menerpa rambut panjangku yang terurai. Tiba-tiba saja sebuah kendaraan melintas dari belakangku. Sekilas aku melihat pengendara itu adalah seorang pemuda mengenakan baju koko lengkap dengan songkok putih dan sorban yang diselempangkan di bahunya. Mungkin dikarenakan tiupan angin yang begitu kencang sehingga membuat sorban yang dikenakan pemuda itu jatuh di jalan. Akupun berlari kecil mendekati kain yang berwarna putih itu dan meneriaki pemuda tersebut.
Mas Ustaaadz.....sorbanya jatuh!Teriakku sekenanya. Namun, teriakanku tak didengar oleh pemuda berpakaian muslim itu, dan terus melaju lalu menghilang dari penglihatanku. Tak seberapa jauh dari jatuhnya sorban itu, aku juga menemukan sebuah tas hitam kecil yang hanya berisikan sebuah Mushaf kecil di dalamnya.
Sepertinya kedua barang tersebut adalah milik pemuda yang melintas tadi.Tanya hatiku. Sore itu aku benar-benar tak habis pikir kejadian uniq itu aku alami. Sambil menggeleng-gelengkan kepala sorban putih itu aku lipat dengan rapi, aku masukkan ke dalam tas gendong kecil itu lalu kuberanjak pergi.
Sesampainya di rumah seolah lupa dengan kejadian yang kualami, kuberdiri di balik jendela kamarku. Kebetulan kamarku berada di lantai dua berdekatan dengan menara mesjid dekat rumah, sehingga di balik jendela tersebut aku terbiasa melihat muda-mudi berlalu-lalang datang untuk shalat berjamaah di mesjid. Rasanya jendela kamar tersebut adalah tempat yang nyaman di hatiku, sebagai tempatku menyandarkan diri dikala lelah. Kadangpula aku menganggapnya seperti sahabatku sendiri, tempatku mencurahkan segala perasaan hatiku, senang dan sedih. Seolah benda mati itu t’lah tau semua kisah hidupku, yaitu aku adalah seorang gadis yang terlahir dari keluarga bekecukupan, ayahku adalah seorang Direktur di salah satu Bank di Mataram. Rasanya aku tak pernah kekurangan suatu apapun. Terlebih lagi aku adalah anak semata wayang di keluargaku. Semua yang kuinginkan selalu dituruti oleh ayah. Namun, semua yang kumiliki tersebut ternyata tak membuatku bahagia. Aku sering dirundung rasa sedih dan kesepian dalam hidup, terlebih lagi jika mengingat Ibu yang t’lah lama tiada. Ayah hanya menuruti segala kemauanku dalam hal materi, namun dalam hal didikan agama tak pernah aku dapatkan darinya. Terkadang aku merasa risih dengan diriku sendiri karena hingga usiaku menginjak 20 tahun masih kesulitan dalam melafalkan Al-qur’an layaknya orang-orang. Kadangpula terbesit dihatiku akan datangnya seorang laki-laki dalam hidupku, yang bisa kujadikan imam, yang bisa membimbingku dalam agama. Namun itu hanya angan-angan belaka, karena setiap laki-laki yang pernah dekat denganku pada akhirnya menjauh setelah mengetahui aku adalah gadis dari kalangan berada. Ya Allah...tunjukkanlah jalanMU!Ucapku di hati. Seiring dengan pintaku tersebut tanpa terasa suara adzan magrib memecahkan angan-angan dan lamunan panjangku saat itu. Tak seberapa lama saat usainya adzan dikumandangkan di balik jendela kumelihat satu persatu jamaah mulai berdatangan. Diantara jamaah tersebut, ada salah satu jamaah yag mencuri tatapan mataku, yaitu seorang pemuda asing yang bertandang shalat di mesjid itu. Berjuta-juta pertayaan muncul di hatiku tentang pemuda tersebut. Namun, aku hanya bisa melihatnya sekilas saja, karena sesaat saja pemuda tersebut masuk ke dalam mesjid dan menghilang dari tatapanku. Dengan hatiku yang masih penasaran kututup jendela kamar lalu segera menunaikan juga kewajibanku untuk shalat.                                                                              
 Sejak saat itu, pemuda tersebut semakin sering kulihat datang ke mesjid. Diam-diam aku sering memperhatikannya di balik jendela kamar. Bahkan, tak jarang sepulang kuliah aku langsung berdiri di dekat jendela tak sabar untuk melihatnya segera melintas di samping rumah. Pemuda itu terlihat begitu shalih mengenakan baju koko berwarna putih nan rapi. Sungguh mulia pribadi yang dimilikinya, ditambah lagi dengan raut wajahnya yang rupawan, kedua hal tersebut membuat hatiku secara diam-diam mulai mengaguminya. Alangkah bahagianya seorang wanita yang akan menjadi pendampingnya kelak...!Ucap hatiku setiap kali melihatnya.
Sore itu entah kenapa tiba-tiba aku teringat saudara sepupuku, sebut saja namanya Nurul. Kebetulan ia adalah satu-satunya sepupu yang paling dekat denganku, yang paling mengerti aku. Rasanya t’lah lama tak bersua lagi dengannya dikarenakan kesibukanku kuliah. Aku rindu celotehannya, keceriaannya, maka saat itu juga kuputuskan untuk menemuinya, rumahnya hanya beberapa meter saja dari rumahku. Sesaat saja ku t’lah dapat menemuinya, tepat di teras rumahnya kami bercengkrama dan obrolan pun berlangsung. Eh, Kak Dian tau gak kalau Abang Herman pulang dari Malang ?Tanya Nurul tiba-tiba mengagetkanku. Bang Herman dah pulang ? Beneran , Nur?Tanyaku lagi seolah tak percaya. Iya, udah dua minggua kok Abangku di sini. Kak Dian saja tuh yang kelewat sibuk kuliah sampai gak tau kabar kakak sepupunya sendiri.’’Protes Nurul kepadaku. Dalam hati kumerasa senang mendengar kabar kedatangan saudara sepupuku tersebut, terlebih lagi semenjak 2 tahun ia kuliah di Malang belum pernah kulihat lagi. Ketika aku dan Nurul baru saja hendak melanjutkan obrolan tiba-tiba Kak Herman muncul di balik pintu.
Assalamualaikum...!Ucap salam Kak Herman kepadaku dengan wajah sumringahnya.    Waalaikum salam...!Balasku seraya menoreh ke arahnya. Namun, mataku tiba-tiba terbelalak akan sesuatu yang tak kuduga-duga. Di samping Kak Herman t’lah berdiri juga seorang laki-laki yang sudah sangat akrab di mataku. Ia adalah seorang laki-laki yang sering kulihat melintas di depan rumah, yang tak lain adalah laki-laki shalih yang sering datang ke mesjid untuk shalat itu.
Maaf jadi mengganggu percakapan kalian. Oh ya, aku kenalkan sahabatku nih, satu kampus denganku di Malang.’’Kata Suherman memperkenalkan sahabatnya tersebut kepadaku. Aku pun sempat beranjak sejenak dari tempat duduk untuk saling berjabat tangan. Walhasil, dari perkenalan itulah aku mengetahui bahwa laki-laki shalih itu bernama Reza......lengkapnya Reza Abdullah.
Singkat kata, sejak saat itu aku pun mulai menjalin persahabatan dengannya. Hari demi hari berlalu kami pun akhirnya mulai akrab satu sama lain. Tak jarang aku sengaja menemuinya untuk menimba ilmu agama karena minimnya pengetahuan agama yang kumiliki. Ia pun dengan senang hati membantuku dalam mendapatkan pencerahan dalam hidup. Sedikit demi sedikit aku pun mulai tau tentang dirinya, tentang dirinya yang berasal dari keluarga terpandang di Jawa. Di sisi lain aku juga tau maksud kedatangannya ke Lombok, selain untuk mengisi liburan panjang tapi juga untuk mengikuti MTQ Tingkat Nasional yang kebetulan digelar di Mataram. Ia adalah salah satu peserta yang akan mewakili daerahnya. Alangkah takjubnya aku tatkala mendengar semua itu, mendengar semua kelebihan yang dikaruniakan Allah kepadanya! 
 Seminggu kemudian, waktunya pun tiba yaitu malam dimana para Qori’ dan Qori’ah berkumpul untuk melantunkan ayat-ayat suci Al-qur’an dengan suara indah mereka. Di sana ada aku, Nurul dan Kak Suherman ikut menemani Mas Reza demi menyemangatinya. Saat itu tampak ribuan orang membanjiri tempat tersebut seolah ingin menjadi saksi malam yang penuh khidmat itu. Panggung dimana tempat para pelantun Al-qur’an itu berdiri megah bernaung di bawah langit yang bertabur bintang bak hamparan permata. Tak sabar hatiku ingin menyaksikan penampilan Mas Reza di atas panggung tersebut, mungkin itu juga yang dirasakan oleh kedua sepupuku saat itu. Alhamdulillah, Mas Reza mendapat urutan peserta pertama saat itu. Suasana pun hening seketika saat Mas Reza naik ke atas panggung. Mungkin aku adalah orang yang pertama paling takjub mendengar Mas Reza ketika tengah melantunkan ayat-ayat suci tersebut. Subhanallah, suaranya begitu indah dan menyentuh hatiku yang mendengarnya!
Rasanya tak dapat kupungkiri lagi kekagumanku kepadanya semakin mendalam. Detik demi detik dan hari demi hari perasaan itu mulai mengembang dan t’lah tumbuh menjadi sebuah perasaan cinta terhadapnya. Aku ibarat pengagum rahasianya yang memendam cinta kasih yang tak pernah diketahui olehnya. Pernah terlintas dipkiranku untuk mengutarakan perasaanku kepadanya, tapi lagi-lagi hati kecilku mengatakan bahwa aku adalah seorang wanita dan rasanya tak pantas melakukannya. Kadang perasaan itu membuatku tersiksa dan membuatku menangis dalam hati. Sampai suatu ketika kuputuskan untuk menemui saudara sepupuku, Nurul. Dengan terbata-bata kuceritakan semua yang kurasakan kepadanya dengan harapan meminta pertimbangan darinya. Setelah mendengar curahan hatiku, Nurul menghela nafas panjang sebelum mengucap beberapa patah kata dari bibirnya.
Kak Dian....Kak Dian Lestariku yang baik , aku ngerti apa yang Kakak rasakan saat ini. Boleh-boleh saja kita mencintai seseorang karena keshalihan ataupun karena kelebihan lainnya yang dimiliki oleh seseorang itu. Namun, jangan sampai kita mencintai seseorang itu secara berlebihan, apalagi sampai menyiksa diri kita sendiri. Ingatlah harkat dan martabat kita sebagai perempuan. Hendaknya kita harus menunggu laki-laki yang terlebih dahulu mendekati dan mengutarakan isi hatinya kepada kita, tidaklah baik jika kita sebagai perempuan yang mendahuluinya.’’Ucap Nurul memberikan masukan untukku. Aku hanya bisa terdiam seraya mencerna nasehat yang diberikan oleh sepupuku tersebut. 
 Adzan magrib mulai terdengar di kamarku. Kubasuh wajah ini dengan air wudhu untuk menjalankan kewajibanku. Kugelar sajadah dan kutunaikan shalatku. Saat itu kumulai merasakan tenang dalam dilema bathinku. Entah apa yang mengusik pikiranku tiba-tiba teringat dengan tas kecil yang pernah kutemukan di jalan cukup lama itu. Aku juga tak habis pikir keinginanku timbul begitu kuat ingin membaca Mushaf di dalam tas kecil itu. Namun, belum saja aku sempat membacanya kutemukan sesuatu terselip di lembaran Mushaf yang lengkap dengan terjemahannya itu. Sesuatu yang tak kusangka dan sulit kupercaya. Sebuah photo ukuran mini dimana wajah di photo tersebut sangat kukenal dan t’lah melekat di hatiku.
Mas Reza....! Teriakku kecil nan parau.’’Jadi selama ini tas kecil yang t’lah lama kusimpan itu adalah milik Mas Reza! Mushaf dan sorban putih itu juga adalah milik Mas Reza! Aku harus cepat mengembalikan semua ini kepada Mas Reza, ia pasti t’lah lama mencari-carinya!’’Gumam hatiku lagi. 
 Tanpa berpikir panjang lagi detik itu juga kuayunkan langkahku untuk menemuinya. Namun, tak sesuai dengan harapanku karena yang kutemukan hanya Nurul seorang diri di rumah.
Nur,... Mas Reza mana?’’Kataku tergopoh-gopoh dengan suara terengah.                         Mas Reza dan Kak Herman sejak 2 hari yang lalu berangkat ke Praya hendak mengikuti Ijtima’ Dunia selama 3 hari.’’Kata Nurul yang jelas mengagetkanku. Tak ada cara lain yang bisa kulakukan selain menjelaskan perihal kedatanganku dan memelas pertolongannya. Sampai pada akhirnya malam itu juga Nurul mengantarkanku ke Praya untuk menemui pemuda shalih itu.
Pendek kata, kami pun t’lah sampai di Praya, tepatnya di sebuah mesjid dimana ribuan umat muslim khususnya kaum adam melakukan iktikaf tahunan tersebut. Sempat diantara kami berdua ragu akan dapat berjumpa dengan Mas Reza karena saking banyaknya jamaah yang berbaur. Namun, di hatiku tetap kukuh dan tetap ingin bertahan meski hanya bisa mengintai di luar pagar mesjid. Satu persatu jamaah berlalu lalang keluar masuk mesjid agung itu, harap-harap diantara mereka adalah Kak Suherman dan Mass Reza. Namun, kedua insan yang kami nanti tak nampak jua diantaranya. Rasanya di malam itu aku adalah gadis yang paling nekat ingin menemui pujaan hatinya meski laki-laki tersebut tak pernah tau akan isi hatinya. Sempat air mataku menetes di pipi karena ada perasaan sangsi untuk dapat berjumpa dengannya di saat terakhir kalinya di Mataram. 
 Malam yang dingin itu bergulir begitu cepat lalu disambut pagi. Di sebuah gubuk kecil kosong tempatku semalaman melepas lelah dengan Nurul, terdengar tangisku terisak-isak. Aku menangis karena merasa mimpiku untuk bertemu dengan Mas Reza tak dapat kupenuhi. Sejenak sepupuku tersebut merangkulku dan mencoba menenangkan pikiranku, sejatinya mengerti apa yang kurasakan. Sesaat kemudian setelah perasaanku mulai tenang, kami beranjak dari gubuk yang tak jauh dari mesjid agung itu. Rasanya tekad kami sudah bulat untuk kembali ke Mataram. Namun, ketika kami baru saja melangkah  dari tempat itu selintas terdengar suara memanggil di belakang kami.
Nurul...! Dian...!’’Suara itu persis terdengar di belakang kami. Serentak saja kami berdua menoleh kearah sumber suara tersebut. Seolah ku tak percaya dengan apa yang kulihat, tak seberapa jauh dari keberadaan kami t’lah berdiri dua orang insan yang kami nanti saat itu. Mereka adalah Kak Herman dan Mas Reza. 
 Kak Herman....!’’Teriak girang Nurul sembari berlari kecil ke arah kakaknya. Aku pun perlahan mendekat pula ke arah mereka. Singkatnya, kulihat Nurul bercengkrama dengan  abang kesayangannya itu dan menceritakan maksud kedatangan kami berdua menemui mereka. Ada perasaan gugup di hatiku karena pada akhirnya masing-masing dari tatapan mereka mengarah padaku. Detik itu ingin kuucap seribu kata tapi seolah mulutku terkunci tak dapat mengucap sepatah kata. Tiada yang bisa kulakukan selain memberikan tas kecil dengan Mushaf dan sorban putih kepada Mas Reza yang sengaja kuhantarkan untuknya. Sejenak ia menyungging senyum manis di bibirnya dan membenarkan bahwa barang-barang itu adalah miliknya yang pernah hilang sebelumya. Saat itu perasaanku campur jadi satu diantara rasa bahagia dan rasa sedih. Aku merasa  bahagia karena dapat berjumpa dengannya di saat terakhir kalinya. Sementara itu, aku pun merasa sedih karena hingga detik itu ia tak pernah tau akan dalamnya perasaanku, sebuah perasaan yang tumbuh bukan karena harta dan rupa ataupun kehebatannya, melainkan karena iman dan taqwa yang ia miliki, dan yang paling utama adalah Karena Aku Mencintainya Karena Allah.

Written by ; anang guman
Mataram 2015








Tidak ada komentar:

Posting Komentar